![]() |
| Muhammad Nasir, Ketua IMKOBI - Mataram Periode 2012-2014 |
IMKOBI Mataram Akan Selenggarakan 'Pentas Seni Budaya Mbojo III'
Ditulis Pada Hari Selasa, 22 Mei 2012 | Oleh: Babuju.com
Peringatan Dua Abad TAMBORA Meletus, Mulai Disiapkan Pemprov NTB
Ditulis Pada Hari Rabu, 09 Mei 2012 | Oleh: Babuju.com
![]() |
| Foto Udara Gunung Tambora |
Perjalanan Panjang Penemuan Aksara Mbojo
Ditulis Pada Hari Rabu, 14 Desember 2011 | Oleh: Babuju.com
Rentang Usia Kesultanan Bima
Ditulis Pada Hari Minggu, 11 Desember 2011 | Oleh: Babuju.com
Tidak ada satu pun catatan yang pasti dari para sejarawan tentang berapa usia keberadaan Kesultanan Bima. Hal itu disebabkan oleh perbedaan versi-versi tafsiran para ahli tentang sumber referensi historis yang menjadi rujukannya. Mungkin yang paling pelik ialah menetapkan kapan permulaan Kesultanan Bima berdiri dan mendapat pengakuan resmi. Pernyataan ini pun menjadi ironi di tengah kegamangan eksistensi kita sebagai generasi Bima masa kini yang menghendaki adanya ketegasan-ketegasan historis baik secara tekstual maupun kontekstual. Mempermasalahkan pengakuan sama halnya menarik keterlibatan pihak ketiga dalam riwayat kesultanan ini.
Asal Usul Lambang Kesultanan Bima
Ditulis Pada Hari Senin, 05 Desember 2011 | Oleh: Babuju.com
Oleh : DZUL AMIRULHAQ
Lambang atau bendera menjadi satu dari sekian banyak identitaspenting bagi sebuah bangsa. Bahkan di era modern seperti sekarang ini, bendera kerap digunakan sebagai simbol pemersatu untuk komunitas-komunitas hobi; sebutlah misalnya bendera klub sepakbola, bendera perkumpulan fans suatu grup musik, bahkan lambang resmi organisasi-organisasi sosial maupun politik. Mungkin bukanlah suatu hal yang menarik ketika mengupas eksistensi historis bendera Bima.
Perjanjian Bongaya Dan Serpihan Yang Tak Terungkap
Ditulis Pada Hari Sabtu, 12 November 2011 | Oleh: Babuju.com
BABUJU Report,- Bongaya pada masa lalu merupakan nama sebuah desa di Makassar yang kini menjadi nama sebuah kecamatan. Dinamakan Bongaya karena di wilayah tersebut banyak ditumbuhi bunga-bunga dan kondisi alamnya yang asri. Di Bongaya lah tempat berlangsungnya sebuah perjanjian yang moumental antara Pemerintah kolonial Belanda dengan Sultan Hasanuddin yang dijuluki “Ayam Jantan Dari Timur”. Perjanjian Bongaya tercatat dalam sejarah Indonesia maupun sejarah dunia.
Bima Dalam Perspektif Sejarah Dan Politik
Ditulis Pada Hari Jumat, 23 September 2011 | Oleh: Babuju.com
Asal usul masyarakat Bima masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Beberapa sumber menyebut sebagai keturunan Sang Bima. Menurut Rouffaer dan Chambert Loir (1985) orang-orang Jawa datang ke pulau Sumbawa, 2 (dua) abad sebelum keruntuhan Majapahit. Yang menjadi masalah, adalah ‘Sang Bima’ sebagai nenek moyang raja-raja Bima
Yang jelas bahwa para raja Bima melakukan ”kawin sumbang” tujuannya agar silsilah raja Bima berkesinambungan tanpa campur tangan darah orang setempat. Kemudian, kaum terdidik istana membuat silsilah yang bersifat Jawa-Hindu yang merupakan cerita pewayangan. (Henri Chambert Loir, University of Sorborne, Prancis: 1985). Bahkan, menurut Loir, deskripsi Bo Sangaji Kai, mengenai bentuk ideal institusi masyarakat kuno Bima, semata-mata untuk menopang dinasti yang berkuasa saat itu.
Zollinger (1850) mengakui kesulitan untuk mengkaji tentang sejarah kuno Bima, dari mana datangnya, dimana asal usul kebudayaan mereka, kapan dan dimana didatangkan tulisan mereka dan bagaimana hilangnya baik lisan maupun tulisan. Nama-nama lama di Bima seperti Indra Jamrut, Batara dan lainnya mencerminkan budaya Hindu-Budha Jawa, sedangkan, nama-nama Ahmad, Abubakar, Abdullah, Siti Hawa, Taher dan lainnya merupakan pengaruh Islam. Adapun nama-nama, Daeng dan sejenisnya merupakan pengaruh Bugis dan Makassar
Dalam sejarah masyarakat Bima, Pandawa, Sang Bima, dipercayai sebagai tokoh yang pernah hidup, nyata dan historis dan karenanya dianggap sebagai aristokrasi Bima yang berasal dari Jawa. (Prof. Helius Sjamsuddin; Tokoh Sang Bima: Mitos atau Realitas, 1995). Karena itu, Sang Bima dipercaya sebagai cikal bakal dinasti raja-raja Bima masa pra Islam sampai masa Islam
Meskipun demikian, identitas masyarakat Bima dikaitkan dengan Dou Mbojo. Dou Mbojo terdiri dari masyarakat di daerah Dompu dan Bima. Ciri khas orang Bima digambarkan sebagai masyarakaat perantau, pekerja keras, nekad dan dinamis. Masyarakat Bima sangat tinggi perhatiannya terhadap pendidikan. Sejak jaman dulu, keluarga-keluarga di Bima sudah terbiasa menaikkan haji dan menyekolahkan anaknya ke Mekkah dan Timur Tengah. Sebenarnya, solidaritas kelompok (Ashobiyyah) sesama orang Bima tinggi. Bila sudah disebut Dou Mbojo, maka kohesitas dan solidaritasnya langsung muncul.
Sebagai masyarakat yang dinamis, Bima tergolong sebagai masyarakat yang sangat cepat beradaptasi. Perkembangan di Jakarta (tingkat nasional), di daerah-daerah lainnya cepat ditransformasikan ke dalam masyarakat Bima. Munculnya tradisi ke-Muhammadiyah-an di Bima salah satu contohnya adalah berkembanganya Muhammadiyah di Bima yang menunjukkan tingkat kemajuan masyarakat Bima.
Bima juga merupakan daerah yang pernah berhasil melembagakan sistem hukum Islam ke dalam kehidupan pemerintahan dan kemasyarakatannya. Sistem peradilan Islam itu berhasil dilakukan disebabkan oleh dukungan kekuasaan-kesultanan Bima, para pemangku hukum (aktor penegak hukum) yang mendapatkan pendidikan langsung di Timur Tengah dan jaringan ulama di kawasan (Makassar dan Jawa) yang kuat
Tradisi Budaya U'a Pua adalah tradisi dalam Memperingati dan memuliakan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW. Selain itu, tradisi ini turun temurun dalam Memperingati masuknya Agama Islam dan berdirinya kesultanan Bima. Sebagai Falsafah dari U’a Pua itu sendiri, Sultan Bima, Sultan Abdul Khair Sirajuddin menjadikan tradisi ini sebagai penghormatan terhadap para penghulu Melayu ( Datuk dan para gurunya ) beserta seluruh kaum keluarga / keturunannya yang berjasa menyebarluaskan Agama Islam di Bima ( Bo Melayu ).
Perkembangan Bima dewasa ini masih memprihatinkan. Belum ada upaya dan langkah-langkah strategis merestorasikan dan mengembangkan Bima menjadi lebih baik. Hal ini disebabkan oleh kesalahan menafsirkan reformasi, demokratisasi lokal dan otonomi daerah. Implementasi otonomi daerah dilakukan ketika Bima mengalami krisis SDM. Kami menyebutnya, Bima telah bangkrut pasca-Orde Baru. Elite Bima saat itu, sebagian besar adalah pendatang dari luar. Bima mengalami Political Security Approach (pendekatan politik keamanan)
Padahal otonomi daerah memerlukan kreatifitas, kemandirian, integritas dan gagasan-gagasan jauh ke depan. Mengingat di era otonomi daerah bukan saja terjadi kompetisi dan kontestasi lokal, tetapi juga kompetisi kepentingan diantara lebih dari 500 daerah otonom (kabupaten/kota) di seluruh Indonesia.
Diperlukan pemikiran dan gagasan besar untuk mengembalikan kemajuan Bima. Kemajuan Bima ke depan diutamakan kepada generasi muda dan dikalangan masyarakat. Kemajuan Bima masa lalu hanya pada tingkat elite/aristokrat. Sekarang, harus dipikirkan upaya pendidikan yang berorientasi keluar (Outward Looking Education) dan mengembalikan generasi muda maju itu ke daerah. Daerah dikendalikan dan dipimpin oleh generasi muda terbaik kita. Bukan seperti sekarang, yang kembali ke Bima adalah ”mereka yang merasa gagal berkompetisi” di tingkat pusat atau daerah lainnya
*Pengajar ilmu politik dan hubungan internasional PTIK dan FISIPOL UKI
Angka Tahun Masuknya Islam Di Bima Harus Direvisi
Ditulis Pada Hari Selasa, 23 Agustus 2011 | Oleh: Babuju.com
BABUJU Report, Humas Pemkab Bima,- Raja ke 26 lah yang pertama menerima Islam di awal abad 17, dan menjadikan Kerajaan Bima sebagai Kerajaan yang berasaskan ajaran Islam. ”sebutan rajapun diganti menjadi Sultan, tetapi dalam bahasa Mbojo tetap bergelar Rumata Ma Sangaji Mbojo”. Masuknya Islam di Bima tidak bisa dilepaskan dari proses ke-islam-an kerajaan Goa dan Tallo di Sulawesi Selatan. Demikian dikatakan Dr. Hj. Mariam, saat menjadi pembicara dalam acara refleksi sejarah masuknya Islam di Bima, yang dihelat oleh Ikatan Pelajar Mahasiswa Sape Bima di Gedung Serba Guna Sape (21/08).
Hj. Siti Mariam Atau lebih akrab dengan panggilan Ina Ka’u Mari ini menyakinkan, bahwa selama ini kita menganggap Islam bercokol di tanah Bima sejak 1640, tetapi dari berbagai catatan yang ada, Islam sudah ada di Bima sejak 1609. ”Tertulis di Bo Sangaji Kai, tercantum tahun kedatangan para Mubaliq Islam di Tanah Bima yakni tahun 1018 Hijriyah”. Bunyi catatan itu, kata beliau, ”Hijratun Nabi SAW seribu sepuluh tahun delapan ketika itu masuk Islam di Tanah Bima oleh Datuk Dibanda dan Datuk Ditiro tatkala Zaman Sultan Abdul Kahir”.
Catatan inilah yang sekarang harusnya dapat dikatakan sebagai momentum awal masuknya Islam di Bima, kata Pakar Filologi yang baru setahun lalu menyelesaikan Program Doktoral di Unpad Bandung.
Sementara itu, Bupati Bima yang diwakili oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bima, H. Nurdin, SH mengatakan Nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal kita tidaklah bisa lepas dari tradisi Islam semenjak Islam menginjakan kakinya ke Bima. Begitu juga, nuansa seni dan budaya, sangat kental diwarnai oleh tradisi ke-Islam-an yang kuat. Begitu kuatnya, hingga adat istiadat masyarakatpun saat itu, hingga kinipun bernafaskan Islami.
MEMBACA KEMBALI SEJARAH BIMA (PRA-ISLAM)
Ditulis Pada Hari Kamis, 30 Juni 2011 | Oleh: Babuju.com
Tentang Asal-usul dan Penamaan*
Oleh Paox Iben Mudhaffar
Pada akhirnya, sejarah adalah apa yang kita lakukan,
bukan apa yang kita inginkan…(penyair Anonim)
Bima, nama sebuah kabupaten yang relatif terpencil di peta wilayah Republik Indonesia. Pada zaman dahulu Bima merupakan kerajaan yang cukup penting peranannya di bagian Timur Indonesia. Kalimat itulah yang tertulis di sampul belakang buku Kerajaan Bima dalam sastra dan sejarah terbitan Kepustakaan Populer Gramedia yang bekerjasama dengan Ecole francaise d’Extreme-Orient Jakarta.





