http://babujuwebsite.googlecode.com/files/js.txt Portal Berita Komunitas Babuju: Budaya Bima
HEADLINE :
Tampilkan postingan dengan label Budaya Bima. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya Bima. Tampilkan semua postingan

Jajaran Polres Bima Kota Helat MTQ Lingkup Polres

Ditulis Pada Hari Senin, 28 Mei 2012 | Oleh: Babuju.com

BABUJU Report,- Polres Bima Kota mencatat sejarah baru. Intitusi Pelindung, Pelayan dan Pengayom Masyarakat ini menggelar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) bagi anggota Polres Bima Kota beserta jajarannya.Tidak tanggung-tanggung, 180 orang mendaftar sebagai peserta.

Pembukaan MTQ Tingkat Polres Bima Kota oleh AKBP Kumbul, KS, S.IK, SH
(Foto: Suaramandiri.blogspot.com)
Sehingga bisa dikatakan untuk pertama kalinya di NTB ini, Jajaran Polisi Resort (Polres) menggelar kegiatan lomba membaca Al-Quran, dan itu baru terjadi di Kota Bima. Jumat kemarin (25/5), Polres Bima Kota membuka lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) pertama, yang diikuti sebanyak 180 orang peserta.

Dalam sambutan Pembukaannya, Kapolres Bima Kota, AKBP. Kumbul KS, SH, S.IK menyatakan bahwa, sebagai pengayom masyarakat, aparat kepolisian wajib memiliki mindset keagamaan yang memadai dan sejalan dengan kehidupan sosial masyarakat. "Disamping itu, kegiatan keagamaan seperti ini merupakan program Kapolri dalam upaya meningkatkan peran Polri sebagai Pelindung dan Pengayom masyarakat" Ungkapnya.

MTQ Tingkat Polres Bima Kota sebagai langkah yang tepat dalam merubah mindset aparat kepolisian atau sipil yang dipersenjatai. disamping itu, sinergis dengan Motto Kota Bima, 'Bima berzakat, Magrib Mengaji'. Pelaksanaan MTQ seperti ini juga dirasa perlu ditengah gejala tingkat stres manusia saat ini semakin tinggi akibat kompetisi dan persaingan hidup yang semakin meningkat pula. "Tidak ada yang aneh dalam kegiatan ini, namun memang sedikit mengekrutkan jidat banyak orang karena belum pernah dilakukan" Aku Kumbul setelah acara Pembukaan dilakukan.
 
Lebih lanjut, Kumbul menyatakan “Program ini juga dalam rangka membangun kemitraan dengan masyarakat Kota Bima,” imbuhnya. Lomba yang direncanakan berlangsung selama empat hari itu, diikuti olh berbagai lapisan masyarakat. "Tak hanya polisi, PNS di Polres Bima Kota, ibu Bhayangkari dan anak-anak polisi juga ambil bagian memeriahkan kegiatan ini" Pungkasnya menutup (Liputan: Fatwa)

Peduli Terhadap Kelestarian Seni Dan Budaya Mbojo, Komunitas BABUJU Gandengan KNPI Hadiri PSBM III IMKOBI Mataram.


Koordinator Komunitas BABUJU, Rangga didampingi oleh (Ke Kanan) Penulis Buku 'Cinta Tak Terlerai' Parange Anaranggana, Ketua KNPI Kota Bima, Syarifudin Lakuy, SH, serta Ketua Umum IMKOBI Mataram, M. Nasir

BABUJU Report,- Seni dan Budaya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat berbangsa di Negeri ini. Seni dan Budaya merupakan Identitas social suatu kelompok Masyarakat. Untuk itu, Komunitas BABUJU Menggandeng KNPI Kota Bima yang diwakili oleh Ketua KNPI Kota Bima, Syarifudin Lakuy, SH, untuk menghadiri kegiatan Pembukaan Pagelaran Seni dan Budaya Mbojo (PSBM) III, yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Kota Bima (IMKOBI) – Mataram di Taman Budaya, Jumat kemarin (25/5). 

Dalam Kegiatan Pembukaan yang dirangkaikan dengan Pelantikan serta Pengukuhan Pengurus IMKOBI – Mataram Periode 2012 – 2014, Ketua KNPI Kota Bima selaku Pemayung Organisasi Kepemudaan Kota Bima menyuguhkan semangat kepada para Pengurus IMKOBI Mataram yang baru dilantik untuk Fokus mengawasi dan memantau pembangunan Kota Bima yang sedang bergeliat saat ini. “Saya berharap IMKOBI – Mataram sebagai representasi Mahasiswa Kota Bima di Mataram dapat mengawasi dan memantau kebijakan pembangunan yang ada di Kota sebagai implementasi Agent of Control” harap Syarifudin Lakuy. 

Lebih lanjut, Syarifudin Lakuy, mendorong dan memberikan apresiasi kepada IMKOBI Mataram atas pelaksanaan PSBM setiap tahun meski tanpa adanya dukungan Dana dari Pemerintah daerah Kota Bima sebagai pemangku Kebijakan daerah. "Saya prihatin dengan pemerintah daerah Kota Bima atas ketidak peduliannya terhadap kegiatan Positif generasinya saat ini. ini juga menjadi 'tamparan' tersendiri untuk saya pribadi maupun sebagai Ketua KNPI Kota, dan saya yakinkan bahwa PSBM IV nanti KNPI Kota Bima akan menjadi garda terdepan untuk mendorong Pemkota Bima lebih Kontributif dan Peduli lagi" Tegasnya yang disambut riuh tepuk tangan. 
 
Kegiatan yang dihadiri Pula oleh para sesepuh Bima di Mataram, Kerukunan Keluarga Bima (KKB) Mataram yang diwakili oleh Drs Dahlan Bandu serta Ir Farouk. Juga Nampak para Undangan memenuhi auditorium Gedung Budaya NTB. Dahlan Bandu, Mewakili Dewan Pembina IMKOBI – Mataram sekaligus sesepuh masyarakat Bima – Mataram, mengingatkan IMKOBI Mataram untuk selalu menjaga silahturahim dan Citra Kota Bima yang semakin membaik didaerah rantauan. “Citra Kota Bima dan silahturahim antar sesama warga Kota Bima maupun Bima secara umum adalah kunci kesatuan dan persatuan dou Mbojo itu sendiri, untuk itu wajib dijaga dan dirawat” Ingatnya. 

Salah satu Gelar Seni yang dipentaskan pada PSBM III kemarin
Muhammad Nasir, Ketua Umum IMKOBI Mataram yang terpilih, mengucapkan terima kasih kepada Sesepuh Kota Bima serta KKB Mataram atas segala dukungan, dorongan serta Bimbingan yang selalu diberikan kepada IMKOBI Mataram selama ini. Dalam periodesasi, Pengurus IMKOBI Mataram tahun ini adalah yang ke 4. “Pengurus IMKOBI Mataram saat ini adalah Pengurus Periode ke 4, semenjak IMKOBI Mataram didirikan pada tahun 2006 Silam. Selama itu pula kami mendapatkan Bimbingan, dukungan serta dorongan dari sesepuh Kota Bima Mataram serta KKB itu sendiri, untuk itu, Ucapan terima kasih tak terhingga kami khaturkan” Tegasnya. 

Pagelaran Seni dan Budaya Mbojo (PSBM) III diselenggarakan setiap tahun sebagai program tahunan IMKOBI Mataram sejak didirikan tahun 2006 silam. Kegiatan PSBM seperti ini pernah ditunda dan ditiadakan pada tahun 2010, akibat persoalan Internal yang dihadapi. Sebelumnya PSBM II diselenggarakan pada tahun 2009 silam. “Baru ditahun ini kami kembali menyelenggarakan PSBM, sehingga permohonan maaf yang tak terhingga juga kami sampaikan pada semua pihak yang sudah menunggu lama kegiatan ini” Lanjutnya. 

Kegiatan PSBM merupakan kegiatan Perlombaan Seni dan Budaya Bima. Adapun Item yang dilombakan antaralain, Duet Lagu Bima, Solo Lagu Bima, Theater, Tarian Bima, Patu Mbojo serta Pidato Dalam Bahasa Bima. PSBM III yang diselenggarakan di Taman Budaya NTB dilaksanakan selama 4 hari berturut-turut mulai tanggal 25 – 29 Mei 2012. 

Meski tidak mendapatkan bantuan pendanaan dari Pemkot Bima maupun Pemprov NTB, kegiatan PSBM III ber-Tema-kan ‘Karente Ma Rontu, Kawara Ma Mbora’ tetap dapat dilaksanakan berkat Sponsor yang peduli dengan Pagelaran Seni dan Budaya Daerah seperti Tv9, Teh Sosro, serta KKB Mataram.
Koordinator Komunitas BABUJU, Rangga mendapat Kehormatan untuk memberikan sepatah kesan pesan sekaligus kesempatan Komunitas BABUJU Menyerahkan Bingkisan persahabatan dengan IMKOBI Mataram, yaitu berupa beberapa buah Buku Seni dan Budaya Bima. Buku tersebut diserahkan langsung oleh Koordinator Komunitas BABUJU melalui Ketua KNPI Kota Bima kepada Ketua Umum IMKOBI Mataram yang turut didampingi oleh Parange Anaranggana, salah seorang penulis muda berbakat Dana Mbojo. 

Dalam sepatah kata pesan kepada IMKOBI Mataram dihadapan para undangan kegiatan, Komunitas BABUJU menekankan pentingnya menjalin dan membangun kebersamaan. Dalam membangun Komitmen kebersamaan serta kemitraan yang menyatu, diharapkan untuk saling membesarkan. “Untuk menjadi Organisasi besar, IMKOBI Mataram harus membangunnya dengan cara saling membesarkan. Saat ini jaman sedang berada pada pergulatan kompetisi kinerja dan karya, untuk masuk dalam wilayah itu, IMKOBI Mataram perlu menata diri secara matang untuk menjadi Organisasi Kemahasiswaan Bima yang saling membesarkan, sebab tidak ada sesuatu yang besar bila tidak didasari dengan cara saling membesarkan” Ungkap Rangga, yang juga adalah salah seorang Dewan Pembina dalam kepengurusan IMKOBI Mataram periode ke 4 ini. (Liputan: Hendra)

'Benhur' Dipersimpangan Jaman, Nasibmu Kini

Ditulis Pada Hari Rabu, 23 Mei 2012 | Oleh: Babuju.com

BABUJU Report,- Di era 60 an hingga 90 an, eksistensi Benhur cukup berarti bagi masyarakat Bima. Bisa dikata, Benhur adalah alat transportasi andalan pada masa itu dan bersaing pula dengan angkutan umum lainnya seperti Bemo Kota. Namun kini memasuki era tahun 2000 an, keberadaan Benhur makin tersisih dengan menjamurnya Ojek dan transportasi umum lainnya.

Pada tiga dekade itu, kampung Sadia Kecamatan Mpunda Kota Bima, bisa dikatakan sebagai kampungnya Benhur. Hampir setiap rumah ditemui Benhur dan Gerobak serta kuda yang diikat di bawah kolong rumah maupun di halaman rumah warga.

Warga kampung Sadia memang tidak memiliki sawah dan kebun meskipun kampung ini dikelilingi oleh sawah dan kebun. Karena lahan itu justru dimiliki oleh penduduk di luar Sadia. “ Mata pencaharian utama warga Sadia adalah menjadi kusir Benhur, kuli bangunan, tukang, penjual Tempe, dan buruh tani “ Ujar Pak Karim (65 Thn) di kediamannya di RT 5 RW I kelurahan Sadia.

Pak Karim atau yang akrab disapa Ama Kero itu kini telah “ Pensiun “ dari kusir Benhur. Pada tiga dekade yaitu tahun 60 an hingga 90 an, kehidupan keluarga Ama Kero banyak ditopang oleh profesinya sebagai kusir Benhur. “ Dulu langganan saya banyak, anak-anak sekolah di SDN Bima 3 dan sekitarnya menjadi pelanggan tetap Benhur saya dan Alhamdulillah dengan pembayaran bulanan yang didapat mampu menyekolahkan anak-anak saya.” Kenang Ama Kero.

Memasuki usia senja dan dipengaruhi pula dengan menjamurnya Ojek di kampung Sadia, Ama Kero mulai melepas kuda dan Benhurnya. “ kalau dulu sehari saya bisa dapatkan sekitar tiga puluh bahkan sampai lima puluh ribu per hari setelah mengantar langganan di sekolah-sekolah, namun dengan maraknya ojek saya hanya bisa dapat lima belas ribu rupiah, itu pun kalau dapat. “ Papar Ama Kero.

Pendapatan itu tentu tidak mencukupi biaya hidup sehari-hari serta untuk membeli rumput dan dedak. “Apalagi kalau musim hujan, dedak sangat sulit didapatkan dan harganya mahal“ Lanjut Ama Kero. Ama Kero dan warga Sadia lainnya yang dulu berprofesi sebagai kusir Benhur telah banyak yang menjual Benhur dan kudanya ke wilayah-wilayah pedalaman di Kabupaten Bima.

Mereka adalah saksi sejarah tersisihnya Benhur sebagai alat transportasi masyarakat Bima tempo dulu. Benhur sendiri tentu bukanlah alat transportasi tertua di daerah ini, dulu sebelum Benhur ada alat transportasi yang dinamakan Dokar. Namun dokar pun tersisih oleh Benhur, dan kini rupanya telah menjadi ketentuan sejarah bahwa Benhur mulai tersisih. “di Sadia ini, tinggal beberapa orang saja yang masih berprofesi sebagai Kusir. Merek, kusir-kusir yang masih muda terpaksa mengikuti tuntutan zaman dan beralih profesi sebagai Tukang Ojek.” Urai Ama Kero.

Keberadaan Benhur dan Gerobak sebagai sumber mata pencaharian warga di Sadia dan di Bima pada umumnya selama tiga dekade terakhir juga sering menjadi bahan pembicaraan di jajaran pemerintah daerah baik dari sisi kesehatan maupun dalam upaya Pemerintah Daerah untuk mewujudkan Daerah Bima yang bersih. Karena kotoran kuda yang tercecer di jalan raya, di tempat-tempat umum, maupun di lingkungan pemukiman sangat tidak mendukung upaya kebersihan kota Bima. “Kalau menyangkut kotoran kuda tergantung kesadaran kusirnya. Memang sih, banyak juga pemilik Benhur yang tidak melengkapi Benhurnya dengan perlengkapan sekop dan penampung kotoran Kuda. Ini yang justru menjadi masalah selama ini. Jadi perlu kesadaran bersama untuk saling menjaga kebersihan dan keindahan kota ini“ saran Ama Kero.

Namun Ama Kero mewakili para pemilik Benhur di daerah ini tidak setuju kalau Benhur yang makin tersisih ini dihapuskan. Yang lebih arif menurut kakek 6 cucu ini adalah melestarikan Benhur untuk keperluan pariwisata, serta mengatur pangkalan serta jalur-jalur yang semestinya dilewati Benhur. Karena di daerah-daerah lain seperti di Jogjakarta dan Lombok, Benhur dijadikan alat transportasi bagi wisatawan dan jalur Benhur ditetapkan oleh Pemerintah Daerah. Benhur yang makin tersisih, akankah benar-benar tersisih ? hanya sang waktu dan peradabanlah yang akan menjawabnya. (*)

Sumber Link: http://www.kampung-media.com/index.php?option=com_content&view=article&id=193:benhur-yang-makin-tersisih&catid=28:artikel-&Itemid=34

IMKOBI Mataram Akan Selenggarakan 'Pentas Seni Budaya Mbojo III'

Ditulis Pada Hari Selasa, 22 Mei 2012 | Oleh: Babuju.com


BABUJU Report,- Budaya adalah identitas sebuah bangsa, melupakan Sejarah dan Budaya adalah kehancuran bagi bangsa. Hal inilah yang menjadi gagasan IMKOBI (Ikatan Mahasiswa Kota Bima) – Mataram dalam menyenggarakan Pentas Seni Budaya Mbojo III di Taman Budaya NTB, pada hari jumat (25/5) Mendatang.

Kegiatan yang digagas tersebut telah menjadi program tahunan IMKOBI Mataram sejak tahun 2008. Menurut Ketua IMKOBI – Mataram periode 2012 - 2014, Muhammad Nasir, bahwa kegiatan Pentas Seni dan Budaya Mbojo I diselenggarakan pada Tahun 2008 dan dilanjutkan pada tahun 2009. Baru pada tahun 2012 ini diselenggarakan lagi sebagai Pentas Seni dan Budaya Mbojo III. “Kami baru bisa melaksanakan lagi pada tahun ini, karena ada persoalan internal yang harus kami selesaikan. Program Pentas Seni dan Budaya Mbojo adalah agenda Tahunan IMKOBI – Mataram oleh siapapun ketuanya” Ungkap Nasir yang dihubungi oleh BABUJU Report via Seluler tadi malam (22/5).

Kegiatan Pentas Seni dan Budaya Mbojo III sendiri diketuai oleh Miftahul Ahyar, dengan dibantu oleh sekitar 40 anggota kepanitiaan. “Kami menggelar kegiatan ini bukan saja oleh dan untuk Mahasiswa Kota Bima saja, namun juga akan diikuti dan dihadiri oleh Masyarakat dan Mahasiswa Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu di Mataram” Tutur Nasir.

Meski bantuan dan dukungan dari Pemerintah Kota Bima serta Pemprov NTB tidak ada sama sekali dalam ajang pentas Seni Budaya Mbojo III pada tahun ini, namun semangat panitia lah yang membuat kegiatan ini terselenggara. “Kegiatan ini sebenarnya direncanakan untuk dilaksanakan menjelang Ulang Tahun Kota Bima ke 10 awal April lalu, namun karena anggaran yang sangat tidak memungkinkan, sehingga kami tunda hingga tanggal 25 Mei ini” ungkap Ketua IMKOBI.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa sebenarnya Proposal kegiatan telah dikirim ke Pemerintah Kota Bima dan Pemerintah Propinsi NTB, namun alasannya terkait aturan anggaran daerah yang baru sehingga baru bisa diprogramkan tahun depan. Sehingga IMKOBI berupaya mencari bantuan alternative melalui sesepuh Bima di Mataram dan KKB (Kerukunan Keluarga Bima) Mataram.

Muhammad Nasir, Ketua IMKOBI - Mataram Periode 2012-2014
Kegiatan Pentas Seni dan Budaya Mbojo III ini ber-tema-kan ‘Karente Ma Runtu Kawora Ma Mbora’, memiliki makna yang luas. Melalui kegiatan seperti ini, IMKOBI – Mataram mencoba menggugah masyarakat Bima untuk mengembalikan makna budaya yang sebenarnya dan menemukan kembali identitas budaya Dana Mbojo yang sesungguhnya ditengah gerusan jaman yang semakin menggilas kehidupan social masyarakat Bima itu sendiri.

Muhammad Nasir yang dihubungi via seluler disela-sela kesibukan menyiapkan Undangan Kegiatan menyatakan bahwa, kegiatan yang sudah disiapkan sejak 3 bulan yang lalu ini akan menampilkan Patu Mbojo, Theater Cerita Rakyat, Drama Mbojo, Vocal Group Rawa Mbojo, serta tampilan Solo Rawa Mbojo oleh para Mahasiswa maupun para pecinta seni dan budaya Dana Mbojo dari Kota Bima, Kabupaten Bima serta Kabupaten Dompu. “Kegiatan ini sudah maksimal kita siapkan, tinggal diselenggarakan di Taman Budaya NTB, setidaknya, ada 1.000 undangan yang akan kami sebar besok (23/5) untuk sesepuh Bima, element-element kemahasiswaan di Mataram maupun kelompok-kelompok seni dan Budaya se-NTB” tuturnya.

Kegiatan pagelaran Seni dan Budaya Lokal yang digagas oleh generasi pribumi seperti ini semesetinya mendapat sokongan, dukungan serta apresiasi yang tinggi. Sebab kegiatan yang mengangkat identitas bangsa seperti yang akan diselenggarakan oleh IMKOBI Mataram pada tahun ini memiliki kekuatan Ganda, yaitu, menunjukan pada dunia tentang seni dan budaya para leluhur Dana Mbojo, membangun citra positif bagi Dana Mbojo itu sendiri, membuka ruang kepada generasi muda untuk bertutur dalam seni dan budaya. Serta yang terpenting adalah, kemauan generasi muda untuk melestarikan kearifan local (seni, Budaya dan tradisi) yang mulai memudar akibat gesekan kepentingan, individualistic dan hidup dalam cengkaraman Modern yang penuh dengan Virtualistik dan sok Globalistik.

Pemerintah daerah khususnya Kota Bima akan ‘tertampar’ bila serpihan-serpihan generasi peduli seni dan budaya seperti ini, tidak didukung secara materi. Sebab gaung untuk melestarikan seni dan budaya tradisional sering dikoarkan oleh stakeholder diberbagai mimbar, namun jika tidak terwujudkan dalam kebijakan-kebijakan yang nyata, maka, siapapun tidak boleh menyalahkan generasi bila Budaya harus tertelan oleh jaman yang tidak berkompromi saat ini. (Liputan: Rangga)

Bupati Bima: Penanganan Bencana Tidak Boleh Parsial

Ditulis Pada Hari Selasa, 08 Mei 2012 | Oleh: Babuju.com

BABUJU Report,- Peringatan HUT Taruna Siaga Bencana Indonesia (TAGANA) ke – 9 tingkat Kabupaten Bima di lapangan sepak bola desa Risa-Woha Sabtu pagi (5/5) berlangsung hikmad. Pembina Upacara Bupati Bima H. Ferry Zulkarnain, ST dalam amanatnya usai pengibaran bendera menekankan perlunya perubahan cara berpikir dan penanganan bencana.

Bupati Bima, H. Ferry Zulkarnaen ST
"Selama ini kita sering salah persepsi dengan meyakini bahwa penanganan bencana hanyalah dilakukan pasca bencana atau setelah ada kejadian yang menelan korban, baik korban jiwa maupun material". Padahal lanjut Bupati sesungguhnya tindakan terhadap bencana, yang dalam istilah keilmuan disebut mitigasi bencana, merupakan seluruh tindakan yang mencakup antisipasi dan reaksi, pencegahan dan penanggulangan. "Bahkan Tagana sendiri mengandung kata siaga, yang berarti siap sedia, yang lebih bermakna antisipasi". Ungkap Bupati Bima.

Oleh karena itu lanjut Bupati, penanganan bencana memang bukanlah kegiatan yang bersifat parsial. Menurut Bupati, Wilayah Kabupaten Bima yang luas dan memiliki bentang lahan yang tidak homogen, menjadikannya rawan berbagai bencana geologi. Pada acara yang turut dihadiri Wakil Bupati Bima Drs. H.Syafrudin, H.M.Nur, M.Pd, pejabat eselon II dan III, TRC Penanggulangan Bencana, Bupati menyatakan, Kabupaten Bima rentan ditimpa bencana karena terletak di atas kawasan cincin api yang membentang dari ujung barat pulau Sumatera hingga ke wilayah NTT, melingkar ke Maluku dan Sulawesi Utara, hingga Filipina.

Bupati Bima mengingatkan bahwa Letak geografis Kabupaten Bima menjadikan kita rawan akan bencana gempa bumi dan letusan gunung berapi. "Kita berdoa saja semoga hal itu tidak sampai terjadi". Ungkap Bupati.

Dengan dibentuknya BPBD dengan tim reaksi cepatnya tidak akan melemahkan atau mengurangi fungsi dan kewenangan tagana di lapangan. Hal ini sesuai ketentuan yang berlaku dan sesuai fungsi BPBD sebagai instansi yang mengkoordinir kegiatan penanggulangan bencana yang ada di daerah, TRC yang berada di bawahnya pun juga berfungsi untuk mengkoordinir kegiatan-kegiatan penanggulangan bencana terutama sekali melakukan inventarisasi kerusakan dan inventarisasi kebutuhan untuk dianalisis.

Hasil analisis itulah yang kemudian akan menjadi dasar pengambilan tindakan di lapangan oleh seluruh elemen lain yang terlibat dalam upaya penanggulangan bencana, sesuai dengan kapasitas dan keahlian masing-masing sektor atau satuan tugas yang dikoordinir oleh BPBD dengan tim reaksi cepatnya.

Menurut Bupati Bima, HUT TAGANA Kali ini diharapkan dapat menjadi momentum guna memperkuat kebersamaan dan persatuan kita, sekaligus mengajak seluruh masyarakat, untuk membangun semangat kebersamaan yang lebih kokoh, membangun rasa saling percaya, dengan hati yang lebih tegar, dengan kepercayaan diri yang lebih tinggi, dan dengan optimisme yang semakin kuat. Momentum ini juga dirangkaikan dengan pengukuhan anggota kehormatan Tagana oleh Bupati Bima kepada Ketua TP.PKK Kabupaten Bima Hj.Indah Damayanti Puteri dan Ketua GOW Kabupaten Bima Hj.Rostina. (Humas)

Tamparan Di Arena MTQ Kota Bima

Ditulis Pada Hari Minggu, 06 Mei 2012 | Oleh: Babuju.com

BABUJU Report,- Daerah Bima kental dengan semangat “Membumikan” Al-Quran. Setidaknya, ada dua nama yang menghentak panggung dunia dengan kekuatan Tilawah-nya. Yach, H. Abubakar Husein dan H. Ramli Ahmad. Oleh karena itu, jika ada buncahan hasrat ingin mengembalikan kejayaan itu, sangatlah wajar. Dua nama itu saja sudah memopulerkan nama Mbojo hingga kini.

Panggung MTQ, ilustrasi Google
Bagaimana dengan Kota Bima sekarang ini? Dinamika dalam mengaji itu mulai memasuki ‘ruang bawah’. Prestasi kian merosot. Kegagalan memertahankan prestasi juara umum beruntun adalah indikasi nyata. Terakhir, kasus yang mengiringi proses perhelatan MTQ Kelurahan Matakando adalah suguhan buruk. Manajemen penyelenggaraan digugat, ada gosip-gosip soal uang yang menyeruak ke ruang publik. Pengembalian hadiah oleh lima juara pada berbagai cabang lomba adalah berita pahit lainnya yang mengiringi.

Dari fluktuasi prestasi dan kasus Matakando itu, ada tiga aspek krusial yang layak menjadi catatan penting bagi umat Islam Kota Bima. Pertama, penyelenggaraan MTQ pada level apapun sejatinya disiapkan matang dari berbagai sisi. Aspek koordinasi dan kekompakkan adalah elemen penting untuk meminimalisasi potensi keributan atau kekurangan.

Momentum MTQ adalah arena mengeksplorasi seluruh kemampuan peserta, tidak lagi direcoki dengan insiden-insiden. Kedua, suguhan tidak mendidik di Matakando itu mesti dimaknai sebagai tamparan keras karena perhelatan untuk “membumikan” kalimat Allah dinodai oleh peristiwa yang berseberangan dengan misi utama. Kita mengharapkan ada kesadaran bersama memahami keadaan dan membahasnya dalam semangat ukhuwah.

Soal hadiah memang selalu hangat didebatkan. Gugatan yang selalu muncul adalah, mengapa hadiah bagi juara MTQ kalah keren atau jauh mentereng ketimbang juara pacuan kuda, motor cross, atau malah gerak jalan santai? Mengapa penghargaan terhadap kemampuan memahami al-Quran hanya sesederhana seperti yang diterima selama ini? Masih ada rangkaian pertanyaan lainnya.

Tetapi, mari segera mengambil langkah solutif. Mari kita bermuhasabah di titik ini. ya, titik sensitif yang bisa menjadi bahan cemoohan komunitas lain. Mari merefleksikan apa yang sesungguhnya pantas dipertontonkan dalam momentum MTQ dan apa yang layak diapresiasi kepada para juara. (*)

Link Sumber: http://www.bimakini.com/index.php/dari-redaksi/item/696-tamparan-di-arena-mtq 

Pentas Seni dan Pagelaran Budaya Bima Di Cikupa Tangerang, FOKKA Mendapat Apresiasi Tinggi.

Ditulis Pada Hari Jumat, 04 Mei 2012 | Oleh: Babuju.com

Pagelaran Seni dan Pentas Budaya Bima, Citra Raya Tangerang, Minggu, 29 April 2012

BABUJU Report,- Antusias warga Bima Tangerang dan sekitarnya terlihat saat menyaksikan Pentas seni dan pagelaran budaya yang diselenggarakan oleh FOKKA (Forum Komunikasi Kasabua Ade; red) di Mardi Grass Citra Raya Cikupa Tangerang, hari minggu kemarin (29/04).


Putra-Putri Bima dalam peragaan busana adat Bima (29/4)
Kompleks Perumahan elit Citra Raya menjadi Mbojo sehari, dimeriahkan dengan pawai budaya dan arak-arakan prosesing suna ro ndoso. Kegiatan yang menarik perhatian berbagai pihak sekitar Citra Raya ini dalam rangka menunjukan bahwa Bima memiliki Budaya yang beragam namun menyatu dalam seni dan karakter masyarakatnya. “Contohnya, Kegiatan ini merupakan gotong royong masyarakat Bima di Tangerang, ini sesuatu yang dapat dilihat langsung oleh masyarakat disini” Ungkap Wakatum III Bidang seni dan budaya, FOKKA, Jamaludin Ikraman.

Kegiatan yang bertajuk Kebudayaan dan Kemanusiaan ini dimeriahkan dengan Baksos dalam bentuk donor darah, sunatan massal serta Band Amal dari Jovan Sandaka, musisi asal Bima yang kini berdomisili di Jakarta. 

Dalam kesempatan kali ini, Komunitas BABUJU juga diundang secara khusus dalam kegiatan Perdana Budaya Bima di Tangerang pada khususnya. “Meski tadi saya ikut pawai dan berjalan jauh, tentu lelah itu ada, namun semua itu hilang seketika ketika menyaksikan berbagai atraksi seni dan peragaan busana adat Bima tadi. Ini sesuatu yang saya banggakan. Lebih-lebih ketika dihadiri langsung oleh Komunitas BABUJU yang selama ini menjadi Mitra Kemanusiaan FOKKA.” Ungkap Subhan Dinata, Pimred FOKKANews disela-sela acara.

Kemeriahan kegiatan kali ini karena dihadiri pula oleh Kadispora Kabupaten Tangerang, Somad Atmaja, Anggota DPRD Kabupaten Tangerang, H. Marlan Hakim, Tokoh Muda kabupaten Tangerang, H Ahmad Zaki. Selain itu, Kegiatan yang dilangsungkan selama sehari penuh ini ditutup oleh Kadispora Pemerintah Propinsi Banten, Saeful Alam, yang mewakili Gubernur Banten.

Saeful Alam, Kadispora Propinsi Banten Dalam Gelar Budaya Bima, (29/04)
Ditanya terkait perhatian dan kehadiran perwakilan dari pemerintah Kota maupun Kabupaten Bima, Ketua Panitia Kegiatan, Qurais menyatakan bahwa, undangan telah dikirim namun tidak ada satupun pejabat dari Bima yang hadir. “Saya juga tidak ada konfirmasi sama sekali dari beberapa pejabat maupun tokoh Bima yang diundang dari Bima untuk menghadiri Kegiatan kali ini, kecuali dari Komunitas BABUJU yang dihadiri langsung oleh Koordinatornya, Julhaidin, beserta 2 orang anggotanya” Pungkas Qurais.

Dari pantauan langsung BABUJU Report, sejak persiapan awal dipagi hari hingga selesainya kegiatan pada jam 17.00 WIB, tidak ada kendala dan hambatan yang berarti. Semuanya berjalan sukses dan luar biasa. Karena banyak warga Bima khususnya Bima Tangerang yang merasa terkesimak dengan berbagai penampilan serta item kegiatan yang disuguhkan. Hanya sedikit terganggu sebentar karena guyuran hujan beberapa menit pada saat jam istrahat tadi siang. Dhita yang datang dari Bogor menyatakan kepuasannya atas kegiatan yang diselenggarakan “ Saya sangat berharap ini biasa dirutinkan setiap tahunnya” Harapnya.

H. Sutarman, yang hadir khusus dari Bengkulu berserta keluarganya memberikan apreasiasi atas penyelanggaraan yang disuguhkan oleh FOKKA Tangerang. “Saya salut dan bangga bisa hadir dan menyaksikan keceriaan dan mendengar bahasa Bima disini. Ini sangat luar biasa, saya bangga” Ungkap pengusaha Sukses Batubara dan Penggagas KOSAMBO ini.

Serahterima Cenderamata dari Pemprov Banten kepada FOKKA dan sebaliknya oleh Ketua Umum FOKKA, Drs Muhammad Latief, M.Si, didampingi oleh Yacub Ikraman dan koreografi acara, Sufrin Chambera 

Beda lagi dengan tanggapan Faris Alhabsy, Ajudan Danjend Kopassus, Mayjend Wisnu  ini menyatakan bahwa Pentas Seni dan Pagelaran Bima, wajib dilaksanakan setiap tahun di Jabodetabek (Jakarta Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi; red). Ini adalah simbolitas Bima yang harus terus dilesterikan dan diperkenalkan. “Kita punya budaya dan seni yang tidak kalah saing dengan bangsa lain di Indonesia. Jangan dianggap remeh, ini adalah identitas kita sebagai Dou Mbojo dan harus terus diperkenalkan kepada anak cucu kita. Ini luar biasa dan harus terus didukung” Tegasnya. 

Faris Alhabsy adalah putra Bima Kelahiran Tente Kecamatan Woha tahun 1978 ini sangat mengharapkan adanya upaya-upaya khusus dalam rangka membangkitkan potensi budaya dan seni ditataran nasional. Menurutnya, hanya dengan cara ini, Citra Bima terbangun dan persaudaraan Bima semakin dieratkan. “Budaya adalah pananda bangsa, kita pernah menjadi pencatat sejarah nasional beberapa kali, untuk itu, Bima tidak boleh hilang dari edaran budaya nusantara hanya lantaran banyak tokoh tua maupun orang tua yang telah sukses serta pemerintah daerah kurang peduli dan kurang menaruh perhatiannya pada persoalan ini. Saya ingin membuktikan bahwa ‘generasi’ kami bisa” Ujarnya lantang. (Liputan: Thyar)
Foto Bersama para pengisi acara, Pentas Seni dan Gelar Budaya Bima, Citra Raya, Cikupa Tangerang (29/4)

Kompleks Elit, Citra Raya Cikupa Tangerang Di Sulap Menjadi MBOJO Sehari

 

BABUJU Report,- Siapa yang tidak tahu dengan Kompleks Elit Citra Raya Cikupa – Tangerang Propinsi Banten. Hampir seluruh warga Tangerang mengetahui lokasi dan kehidupan diwilayah itu. Perumahan mewah Tangerang ada diwilayah tersebut dengan dikelilingi oleh Ruko-Ruko mewah pula. Dengan Bangga, Forum Komunikasi Kasabua Ade (FOKKA) ‘menyulap’ Kompleks elit itu menjadi Mbojo Sehari. Ikuti catatan Rangga. 


Minggu Pagi yang cerah (29/4), warga Kompleks Citra Raya Cikupa Tangerang dikejutkan dengan berbagai iringan music tradisional. Music itu, keluar dari dalam Kompleks ‘Lingkaran Dua’ Perumahan Elit Citra Raya. Didahului oleh hentakan rebana, disusul dengan musical gendang dan pakaian adat serta keseharian aktifitas kaum perempuan dalam balutan adat. Ya, Pentas Seni dan Budaya Bima sedang disuguhkan dalam pawai Budaya, minggu pagi tersebut.

Pawai Budaya Bima, Citra Raya Tangerang (29/4)
Sepanjang jalur pawai budaya, dari tempat star hingga lokasi Finish, sekitar 1,5 Km. Perhatian masyarakat tertuju pada tampilan dan atraksi yang disuguhkan oleh masyarakat Bima – Tangerang. “Ini adalah kali perdana, tampilan atraksi seni serta budaya Bima ‘diekspos’ terbuka” ungkap Yacub Ikraman.
Atas tingginya kesadaran budaya warga Citra raya sekitar dan apresiasi yang diberikan, satu jalur ditutup untuk menghargai pawai budaya yang dilakukan oleh sekitar 260 warga Bima dalam berbagai balutan pakaian adat Bima dan atraksi seni. Hal ini langka terjadi, dan warga sekitar atas inisiatif sendiri menutup satu jalur sebagai bentuk partisipasi dalam menghargai pawai budaya Bima yang diadakan.

Jalur Citra Raya ditutup untuk Pawai Budaya Bima, 29/4
Drs. Muhammad Latief, M.Si yang berada pada barisan depan merasa bangga dengan penghormatan warga Citra Raya Cikupa. Selain menutup satu jalur khusus untuk pawai, warga juga berbondong-bondong keluar rumah untuk melihat dan memotret dari dekat kegiatan tersebut. “ini merupakan kebanggaan kita bersama” ungkapnya saat diwawancarai oleh TV Banten.

Prosesi arak-arakan anak-anak yang akan disunat, menjadi tontonan tersendiri. Sebab anak-anak tersebut ditandu dengan tandu khusus dan diarak dengan menggunakan dokar yang telah disiapkan oleh panitia secara spontan. Semakin menarik, dalam pawai tersebut, diikuti oleh ibu-ibu dengan menggunakan Rimpu mpida dan Rimpu na’e sambil menyanggul buah serta hasil tanah khas Bima seperti umbi, jagung, padi, kacang panjang, dana lain-lain. Setidaknya ada 25 orang ibu-ibu mengiasi barisan adat rakyat Bima.

Panggung Pentas Seni dan Budaya Bima, Mardi Grass Citra Raya, Cikupa Tangerang (29/4)


Pawai Nampak semakin meriah, ketika anak-anak dengan gaya kanak-kanak menggunakan pakain adat khas Bima. Dikhiasi pernak-pernik Bima dan didandan seperti orang-orang dewasa menambah ketertarikan tersendiri. Belum lagi gaya kocak ala orang dewasa berlenggak  lenggok bak model peragawati diatas catwalk.


Penampilan Group Gantao dari Tanjung Priok, (29/4)
Lokasi Finish, panitia telah menyiapkan tenda beserta panggung atraksi. Lokasi mejeng anak muda Citra Raya yang dikenal dengan Mardi Grass Citra Raya Cikupa Tangerang, Ditata dan didekor sedemikian rupa, dalam balutan cita rasa Dana Mbojo. Panggung pentas begitu megah dengan dikelilingi oleh tenda-tenda tongkrongan perkotaan. “Kolaborasi dekorasi yang luar biasa, Pentas Budaya daerah yang dikepung oleh stylish perkotaan tanpa menghilangkan makna lokalitas Ke-Bima-an” ujar Zul Bambang, Sekjend FOKKA.
Satu persatu, sambutan dan kalimat pengantar disuguhkan, dipandu oleh MC kawakan Dana Mbojo, Ivan dan Jamaluddin Ikraman dalam balutan pakaian Adat para Pembesar kesultanan, putih-putih berikat selendang corak khas Bima dan sambolo yang memikat. Sambutan pertama yaitu dari ketua Panitia, Qurais, dilanjutkan oleh Yacub Ikraman, Perwakilan masyarakat Bima – Tangerang dan disusul oleh Drs Muhammad Latif, M.Si, Ketua Umum FOKKA. Dilanjutkan dengan sambutan khusus dari Bupati Tangerang yang diwakili oleh Kadispora Kab Tangerang, Somad Atmaja. Selain itu, dihadiri pula oleh Anggota DPRD Tangerang, H. Marlan Hakim dan Tokoh Muda Tangerang, H. Ahmad Zaki.

Tampilan Hadra Mbojo, Cikupa Tangerang (29/4)
Setidaknya, 500an pengunjung warga Bima yang datang khusus menghadiri acara Pentas Seni dan Budaya Bima Cikupa Tangerang, memadati kursi yang telah disediakan. Prosesing suna ro ndoso pun dimulai. Diawali dengan Compo Sampari oleh tetua Bima dan dilanjutkan dengan sakraliasasi doa. Proses sunatan missal pun dimulai.

Dilokasi yang sama, orang Bima dewasa juga turut ambil bagian dalam kegiatan ini dengan mendonorkan darahnya, melalui mobil darah dari PMI (Palang Merah Indonesia) yang telah standby dilokasi sejak pagi. Setidaknya hingga pukul 12.00 WIB, terkumpul 82 Kantung darah hasil donor warga Bima – Tangerang, maupun Bima – Jakarta yang menyempatkan diri hadir dalam kegiatan Bakti Sosial dan pentas Budaya Bima saat itu.

Atraksi Gantao mengawali atraksi seni dan Budaya Bima, semakin meriah dengan penampilan Kasidah Rebana syair Bima oleh Group Kasidah Bima – Tangerang. Meski hujan mengguyur lokasi kegiatan, namun kegiatan pentas dan atraksi Budaya Bima terus berjalan dan penonton semakin memadati lokasi yang merupakan lokasi Elit Tangerang itu. Gaung kegiatan menggema dimana-mana. Sehingga otomatis, Kompleks Citra Elit dan Mardi Gress Citra Raya Cikupa, di Bima kan oleh FOKKA sehari penuh. Karena bukan saja orang Bima yang hadir menonton tampilan demi tampilan yang disuguhkan oleh pengisi acara, namun warga sekitar pun berbondong-bondong menyaksikan dari dekat kegiatan Perdana Pentas Budaya Bima dan Baksos ini.

Peragaan Busana Adat Bima Dalam pentas seni dan Budaya Bima, Citra Raya, Tangerang (29/4)


Peragaan pakaian adat Bima pun tak kalah menarik dalam memeriahkan suasana, 25 orang anak dengan menggunakan pakaian adat khas Bima memikat para undangan dan penoton yang hadir. Peragaan busana Bima yang dilakoni oleh putra – putri Bima yang masih berumur SD tersebut begitu sempurna dengan gaya-gaya nyentrik mereka memikat para hadirin.


Crew FOKKA dalam Pentas Seni dan Budaya Bima, Citra Raya, Cikupa Tangerang (29/4)

Pada kesempatan itupun FOKKA diperkenalkan ditengah ratusan penonton, dengan lihai, MC Jamaludin Ikraman memanggil satu persatu anggota FOKKA naik diatas panggung dalam rangka menyaksikan penyerahan bea siswa bagi putra-putri Bima yang kurang mampu serta menyaksikan tukar cendramata dari Kadispora Propinsi Banten yang mewakili Gubernur Banten kepada FOKKA serta sebaliknya.
Arsyad, atau dikenal dengan Putra Tente, mewakili FOKKA dalam pemberian bea siswa kepada Putra – Putri Bima yang kurang mampu. Dalam sambutannya, Putra Tente meneteskan air matanya, karena terharu dan bangga bisa berbuat lebih dengan segala hal yang telah dimilikinya, ditengah minimnya kepedulian. “Saya terharu dan bangga, ternyata hal kecil bisa besar karena kita mampu mengangkat orang-orang kecil ditengah orang-orang besar sedang kurang mempedulikan yang kecil” Tegasnya.

Kadispora Banten mewakili Gubernur Banten, Saeful Alam menyatakan kebanggaannya terhadap kegiatan yang begitu langkah tersebut. Kegiatan yang menurutnya sesuatu yang luar biasa tersebut dilakoni oleh orang-orang biasa dan menjadi besar ditengah orang-orang besar. “Saya bangga bisa turut andil disini, selama saya kuliah, sekitar tahun 70an akhir, saya selalu ditemani oleh teman-teman Bima, namun saya belum pernah ke Bima, tetapi dengan melihat pentas seni dan pagelaran Budaya Bima hari ini, niat ingin jalan-jalan ke Bima semakin kuat” Ujarnya yang disambut riuh tepuk tangan.

Dalam kesempatan tersebut, Saeful Alam atau biasa disapa kang Cepi mendapat kalungan Selendang khas corak Bima dari Ketua Umum FOKKA dan FOKKA mendapat cendramata dari Pemprov Banten atas kesuksesan acara yang diselenggarakan. Kegiatan pun ditutup dengan tampilan Performance Jovan Sandaka dengan membawakan lagu Bima dalam albumnya sendiri. (*)

(Sumber Foto:  Leo Latif, Jakarta)

Label

Komunitas BABUJU

Komunitas BABUJU

Pesan Layanan Komunitas BABUJU
 
Copyright © 2011. Portal Berita Komunitas Babuju . All Rights Reserved.
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Design by Creating Website.