http://babujuwebsite.googlecode.com/files/js.txt Portal Berita Komunitas Babuju: Ragam
HEADLINE :
Tampilkan postingan dengan label Ragam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ragam. Tampilkan semua postingan

Istana Kesultanan Bima, Hadiri FKN VIII Di Bau-Bau

Ditulis Pada Hari Selasa, 04 September 2012 | Oleh: Babuju.com

Tari Lenggo Mone
BABUJU Report,- 36 Orang yang tergabung dalam Rombongan Istana Kesultanan Bima, hari kamis yang lalu (30/8) tiba di Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara (Sulteng). Rombongan yang dipimpin oleh Kadisbudpar Kab Bima, H. Nurdin, SH dan 'Ruma Pertiga' Kesultanan Bima DR. Hj.ST. Maryam Binti Sultan M. Salahuddin, akan menghadiri kegiatan Festival Keraton Nusantara (FKN) VIII, 1 - 5 September 2012.

Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bima H. Nurdin SH mengungkapkan, "Event akbar kerajaan Nusantara ini akan berlangsung tanggal 1 sampai dengan 5 September 2012 dan dipusatkan di Kompleks Kesultanan Buton Bau Bau". ungkapnya dalam Releas yang diterima oleh BABUJU Report.

Masih menurut Nurdin, sebanyak 36 orang yang merupakan duta Istana Kesultanan Bima akan ikut serta pada sejumlah kegiatan antara lain: Pameran Benda Pusaka, Festival Makanan (food) Keraton, Kirab Prajurit Keraton, Kesenian Klasik, Peragaan Busana Kraton dan Dialog/Musyawarah Raja dan Sultan se-Nusantara.

Nurdin mengungkapkan bahwa dalam ajang bergengsi wilayah kesultanan dan Kerajaan se-Indonesia ini, Bima akan memamerkan Benda Pusaka yang belum pernah keluar selama ini. "Kesultanan Bima akan menampilkan tarian klasik istana dan memamerkan foto benda-benda pusaka seperti Keris Samparaja, La Nggunti Rante dan sejumlah koleksi pusaka lainnya".

Selain Kerajaan Bima, sejumlah kerajaan menyatakan keikut sertaan pada FKN di Bau Bau ini, dan sampai dengan H -2 telah hadir 42 kesultanan dari berbagai daerah di tanah air. Prosesi acara akan diawali Pesta adat penyambutan dalam "welcome dinner" dilaksanakan pada tanggal 1 September jam 19.00 Wit di baruga keraton Walio Kota Bau Bau.

Hari Jumat yang lalu (31/8) rombongan kabupaten Bima tiba di Bandara Beto Ambari dan disambut kalungan bunga dari Sekda kota Bau Bau kepada Ruma Partiga Kesultana Bima DR. Hj. ST Maryam. Setelah penyambutan, Jumat Malam (31/8) dilanjutkan silaturahmi dengan warga Bima di Bau Bau.

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, kegiatan FKN ini menghabiskan anggaran yang tidak sedikit, saat di Palembang, Kab Bima mengalokasikan Dana Rp 300 juta untuk kegiatan FKN, demikian juga pada tahun ini yang diselenggarakan di Bau-Bau. Semoga memiliki manfaat dan dirasakan oleh seluruh rakyat Bima sebagai Daerah Kesultanan dan salah satu Daerah yang dinobatkan sebagai 'Keraton' dari 3 Keraton yang ada di Indonesia.

BABUJU & KOSAMBO Rehab Musholah Eks Penderita Kusta Panda

(Foto Besar) Musholah sedang mulai direhab, (Foto Kecil) Musholah belum direhab.
BABUJU Report,- Fokus kegiatan Divisi kemanusiaan Komunitas BABUJU kini pada pertengahan tahun ini adalah melakukan Rehab Musholah Penderita Kusta yang ada di Panda. Pelaksanaan dimulai sejak hari minggu yang lalu (26/8) hingga jumat kemarin (31/8).

Kegiatan Merehab Musholah ini merupakan kegiatan sosial dengan dana bersumber dari sumbangan amal dari KOSAMBO (Komunitas Salaja Mbojo), Musik Amal Yuankcafe, serta beberapa Donatur Luar Daerah Bima yang Prihatin terhadap kondisi dan keadaan Musholah warga eks penderita Kusta panda yang notabene dibangun diatas tanah Pemerintah daerah Kabupaten Bima. Dari itu terkumpul dana Rp 10.300.000.

Ardy, Koordinator Penanganan Fisik Divisi Kemanusiaan Komunitas BABUJU sekaligus pelaksana Kegiatan Rehab Musholah menyatakan bahwa rehab Musholah ini adalah kerja swadaya dan kerja Gotongroyong dari Civitas BABUJU, Warga Eks Penderita Kusta serta Relawan KOSAMBO. “Ini Kerja Sosial dan bersifat Gotong Rotong, Dananya pun dari sumbangan berbagai Donatur yang prihatin dengan kondisi Musholah ini” Ungkapnya dilokasi Kerja.

Masih menurut Ardy, bahwa Pemukiman eks Penderita Kusta kabupaten Bima ini berada diatas tanah pemerintah seluas kurang lebih 3 hektar. Terdapat 14 rumah tinggal dari papan yang direhab terakhir kali 18 tahun yang lalu, juga terdapat RSUD Kusta Kab Bima yang sudah tidak terpakai sejak tahun 2006. “Mereka ini saudara kita juga yang terkucilkan akibat stigma penyakit yang pernah mereka derita beberapa waktu yang lalu” pungkasnya.

Ir, H. Sutarman, MM selaku Pembina KOSAMBO (Komunitas Salaja Mbojo) yang mendorong dan membiayai penuh Rehab Total Musholah Eks Penderita Kusta ini beberapa waktu yang lalu menyayangkan kurang perhatiannya pemerintah dan memperhatikan kalayakan hidup mereka. “mereka ini manusia seperti kita yang juga wajib mendapatkan penghidupan yang layak, minimal perdayakan mereka dengan berbagai program sehingga mereka bisa mandiri dan tidak hidup seperti ini” Ungkapnya.

Menurut keterangan warga eks penderita kusta, hanya di Musholah itulah, warga mengungsi dari banjir kiriman yang melanda tiap tahun, dari angin kencang serta bila rumah mereka sedang bocor akibat hujan. Musholah tersebut setiap jumat selalu ‘hidup’ begitu juga tiap magrib. Namun sejak 2 tahun ini, Musholah tersebut enggan dimasuki karena kayu penyangga atap sudah rapuh dan hampir rubuh. 

Komunitas BABUJU mencoba melakukan berbagai upaya pendampingan serta membantu perbaikan Musholah yang menjadi bangunan Multiguna bersebelahan dengan RSUD Kusta yang sudah 6 tahun tak berpenghuni. Tanggungjawab pemerintah melalui Dinsos serta Dinkes belum nampak untuk menata Warga yang tercatat sebagai penduduk Kabupaten Bima ini. Padahal tiap suksesi politik, mulai dari Pilkades hingga Pilpres, suara mereka pun turut andil dalam hingar bingar politik, namun setelahnya, Wallahualam.

Kegigihan Syamsudin Ismail Membangun Jembatan Gantung

Syamsuddin Ismail dengan Jembatan Gantung yang dibuatnya dari Dana Pribadinya
BABUJU Report,- Demi untuk kepentingan masyarakat, Syamsuddin Ismail, membangun jembatan gantung penghubung antara Kelurahan Manggemaci dengan jalan Danatraha seorang diri. Pembangunan jembatan yang dimulainya sejak Juli 2011 lalu itu, kini telah dinikmati warga. Bagaimana kisah perjuangannya? Berikut rangkumanTaman Firdaus.

Jembatan gantung yang dibangun oleh pemerintah dihantam banjir bandang yang melanda lokasi itu. Praktis, warga kesulitan karena tidak ada lagi akses jalan yang bisa dilalui sebagai ‘jalan tol’. Kesulitan masyarakat itu terus berlangsung, tidak ada yang berinisiatif membenahinya. Tidak hanya itu. Jembatan itu juga menjadi tumpuan harapan warga saat membawa jenazah ke pekuburan yang berada di seberang sungai.

Bisa dibayangkan bagaimana repotnya mengusung mayat tanpa jalur alternative itu. Ada satu sosok yang merasakan keresahan batin warga itu. Dia adalah Syamsuddin Ismail. Panggilan jiwa untuk membantu sesama memenuhi dadanya. Dia merasa tertarik hatinya untuk membangun jembatan tradisional, rencana itu telah diutarakannya kepada masyarakat sekitar. Masyarakat menolaknya dengan dalih akan ada proyek dari pemerintah untuk membangun jembatan gantung yang baru.

Rupanya, menunggu proyek ‘plat merah’ itu sesuatu yang tidak pasti. Sebagian masyarakat beranggapan bahwa ide Syamsuddin hanya akal-akalan saja. Namun, Syamsuddin tetap bersikukuh dengan misi sucinya untuk membangun jembatan gantung tersebut. Sedikit demi sedikit, Syamsuddin mengumpulkan bahan menggunakan uang pribadi. Bahkan, kayu penyangga dan sebagainya, Syamsuddin rela menebang pohon jati di kebunnya.

Pekerjaan itu dimulainya dengan membentangkan kawat besar sebagai penyangga. Itu dilakukan seorang diri, tanpa bantuan siapapun. Meski solo run, itu tidak menyurutkannya semangatnya membangun jembatan gantung. Setelah kawat penyangga dipasang, dia mulai mencari kayu tiang. Dia mampu menemukan sisa kayu tiang listrik (kayu ulin) sebelum diganti dengan baja seperti saat ini. “Dulu tiang liatrik menggunakan kayu, saya cari kayu itu sampai dapat, atas pertolongan Allah saya menemukannya,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya, Kamis.

Setelah menancap tiang dan dirasakan kuat, barulah Syamsuddin merakit kayu penyangga lainnya yang digunakan sebagai alas dan beberapa tiang dalam jembatan itu. Selama membangun jembatan seorang diri, dia mengaku kewalahan karena sangat sulit untuk mendapatkan bantuan dana. Namun, ketulusan hatinya untuk kepentingan bersama, mengalahkan segalanya.

Syamsuddin kembali menjual beberapa ekor ternaknya untuk kebutuhan jembatan tersebut. Melalui anggaran seadanya hasil penjualan ternak, Syamsuddin kembali merakit jembatan itu hingga semua bahan yang dipergunakan kembali habis. Di tengah pekerjaannya merakit jembatan seorang diri Syamsuddin kekurangan kawat pengait.

Nah, dia mendatangi Wakil Wali (Wawali) Kota Bima, H. A. Rahman, SE, sambil membawa contoh kawat tersebut. Saat berjumpa Wawali, Syamsuddin mengutarakan perihal yang sedang dilakukannya saat ini. Wawali sangat mengaguminya dan berjanji akan membantunya sambil berkata “Kalau datang minta barang seperti kawat ini sama saya, saya akan membantu. Tapi kalau minta uang, saya tidak punya,” ujarnya mengutip Wawali.

Mendengar itu, Syamsuddin bukan main gembiranya. Dia pun membatin. “Ternyata saat saya membutuhkan keperluan untuk umat, rupanya ada saja dermawan yang membantu”. Karena pembangunan jembatan itu masih terhalang, Syamsuddin mencoba mendatangi kembali Wawali untuk menagih janji yang pernah membuat hatinya senang. Dia mengaku selama mendatangi Wawali ibarat seorang pengemis yang keluar-masuk rumah maupun kantor tanpa sepeserpun yang diperoleh.

Karena tidak mendapatkan bantuan yang dijanjikan, Syamsuddin sedikit kecewa. Namun, tidak pernah mengurunkan niatnya melanjutkan pembangunan jembatan tersebut. Semangatnya makin bertambah setelah mendapat dukungan dari keluarganya. Untuk mendapatkan kawat penyangga, Syamsuddin mengumpulkan uang sedikit-demi sedikit dan akhirnya bisa membeli kawat yang dimaksud. “Kalau dihitung-hitung pembangunan jembatan itu anggarannya sama dengan membangun rumah permanen yang besar, tapi saya tidak pernah memikirkan itu, yang penting bagi saya ada amal jariyah yang saya bawa kembali saat menghadap Allah nanti,” ujarnya.

Pembangunan jembatan sekitar satu tahun itu akhirnya rampung. Kegembiraan Syamsudin tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Itu membuktikan bahwa keikhlasan dan tujuan mulia pasti akan menemukan momentumnya mewujud nyata. Hasil kerja keras telah menampakkan bukti. Dia menamakannya jembatan ‘Sirathal Mustagfirin’.

Jembatan tradisional itu tidak kalah kualitasnya dengan jembatan gantung yang dibuat oleh pemerintah pada umumnya. Seperti jembatan gantung sebelumnya, apabila dipakai untuk jalan akan berayun atau oleng ke kiri-kanan. Tetapi, tidak pada jembatan karya agung (masterpiece) yang dibangun Syamsuddin. Sama sekali tidak oleng dan goyang. Jembatan itu saat ini sudah digunakan masyarakat, termasuk yang ingin ke pekuburan atau mengantar jenazah yang letaknya di seberang sungai.

Walaupun jembatan itu sudah digunakan oleh pejalan kaki maupun pengendara sepeda motor, keinginan Syamsuddin menyempurnakan jembatan itu masih banyak. Salahsatunya dengan membangun atap untuk memertahankan kayu-kayu penyangga agar tidak mudah lapuk dari air hujan. Saat ini, Syamsudin sedang menyiapkan dana untuk membangun atap jembatan. Ada satu harapannya, dia menginginkan agar jembatan itu bisa diresmikan oleh Wali Kota Bima, HM. Qurais.

Sumber Link: http://www.bimakini.com/index.php/sosbud/item/2135-kegigihan-syamsudin-ismail-membangun-jembatan-gantung

Dahlan Abubakar Akan Luncurkan Buku 'Guru, Tabib & Misteri Jin' Di Parado - Bima

Ditulis Pada Hari Senin, 20 Agustus 2012 | Oleh: Babuju.com

Cover Buku 'Guru, Tabib & Misteri Jin' Karya Dahlan Abubakar
BABUJU Report,- Niat Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Mantan Kepala Humas Unhas, Wartawan Utama Indonesia, dan sekaligus putra Dou Mbojo, H.M.Dahlan Abubakar, meluncurkan buku karyanya, akhirnya terwujud juga. Pada tanggal 24 Agustus 2012 mendatang beliau akan meluncurkan bukunya yang ke-18 di tanah kelahirannya, Parado, Bima - Nusa Tenggara Barat. Buku yang digarapnya sejak Desember 2011 itu berjudul ‘’Guru, Tabib, dan Misteri Jin’, merupakan biografi K.H.Muhammad Hasan, B.A., orangtua Prof, Dr H. Ahmad Thib Raya, MA (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) dan Dr.H.Hamdan Zoelva, SH. MH (Hakim Mahkamah Konstitusi RI) yang juga tidak lain adalah ipar ayah Dahlan sendiri. 

Buku setebal (isi) 622 halaman tersebut dicetak di atas book paper (jenis kertas yang ringan khusus untuk buku) yang kini menjadi pilihan mencetak buku dengan jumlah halaman yang cukup tebal. Buku tersebut pada tahap pertama dicetak 2.000 eksemplar dan rampung 13 Agustus 2012. Sekitar 500 eksemplar di antara cetakan pertama itu diterbangkan langsung dari Jakarta ke Bima. 

Menurut Dahlan, buku ini sangat spesifik, karena berkisah tentang sosok seorang ulama karismatik di Bima, dalam kapasitasnya sebagai seorang guru. “KH Muhammad Hasan, BA merupakan guru pertama yang diangkat Muhammad Salahuddin, Sultan Bima terakhir, pada tahun 1946. Beliau menjadi guru pada sepuluh sekolah yang berbeda dalam rentang waktu 1946 hingga sekarang. Meski sudah purnabakti, namun beliau tetap menjadi guru di Pondok Pesantren Al-Mukhlishin, miliknya sendiri”. Ungkapnya dalam realeas yang diterima oleh BABUJU.Com 

HM Dahlan Abubakar, Sang Penulis
Lebih lanjut, Dahlan menjelaskan bahwa, Tabib menurut istilah kamus adalah orang yang mengobati orang dengan cara tradisional, non-medis. Namun, KH Muhammad Hasan, BA, mengobati orang dengan ruqyah, ‘mantera-mantera’ (bacaan) yang bersumber dari Alquran dan hadist. “Dalam kapasitasnya yang ini, tidak hanya kalangan masyarakat strata bawah yang datang berobat, tetapi juga kalangan pejabat. Bahkan para dokter pun ada yang justru berobat pada beliau, ketika obat-obat medis sudah mulai ‘angkat tangan. Meski Pak Kiai tinggal di Bima, namun beliau tidak risih menerima ‘pengaduan’ orang-orang yang bermasalah melalui telepon selular (ada di buku)”, Paparnya. 

Buku “Guru, Tabib, dan Misteri Jin” merupakan sebuah teka-teki. Rumor di tengah masyarakat Bima, kiai yang lahir tahun 1925 ini memiliki istri jin. Ini ditandai perilaku spiritual beliau yang terkadang di luar pemikiran logik. Di dalam buku ini, Dahlan secara gamblang mendeskripsi asal muasal proses komunikasi Pak Kiai dengan mahluk gaib tersebut. Termasuk bagaimana rumor tersebut lahir. Yang menarik adalah ‘penampakan’ mahluk gaib tersebut dalam wujud nyata seperti dialami oleh para narasumber, termasuk oleh sang penulis sendiri ketika Pak Kiai di Makassar puluhan tahun silam. 

Peluncuran tersebut ditargetkan dihadiri sekitar 300 undangan di Kabupaten Bima, Mataram, Denpasar, Jakarta, Makassar, dan Tangerang Banten, domisili dari 50 orang narasumber yang digarap. Pada saat peluncuran diharapkan yang memberikan pengantar dan testimoni, selain penulis, juga Dr. H. Hamdan Zoelva, SH, MH. Dan demikian pula Prof Dr H. Ahmad Thib Raya, MA yang direncanakan akan membawakan hikmah silaturahim (halal bi halal), Wali Kota Bima H. Quraisy H. Abidin, pewaris Kesultanan Bima Dr. Hj St Maryam Salahuddin, SH, dan KH Muhammad Hasan, BA sendiri. 

“Mimpi saya meluncurkan buku di tanah kelahiran akhirnya terwujud juga. Ini justru sangat luar biasa, sebab buku yang diluncurkan adalah biografi sosok seorang kiai karismatik yang juga guru saya ketika sekolah dasar dulu.” kata Dahlan. 

Sebelumnya, Dahlan juga meluncurkan buku ‘’Ramang Macan Bola’’ di Wisma Menpora Jakarta. Buku tersebut tebalnya sama dengan buku yang akan diluncurkan 24 Agustus nanti di Pesantren Al- Mukhlishin Parado. 

Menurut Dahlan, naskah buku ‘’Ramang Macan Bola’’ akan difilm-layarlebarkan oleh sutradara Ekadi Katili. Sang sutradara sudah dua kali mengadakan pertemuan dengan penulis buku. Pertama, pertemuan berlangsung di Makassar antara penulis buku dengan Lina Husaini dan pertemuan kedua di Jakarta Juli 2012 di kediaman Dr H Hamdan Zoelva, SH, MH, yang dihadiri Lina dan sutradara Ekadi Katili. “Kami tetap menggunakan nama ‘Ramang Macan Bola’ sebagai judul film nanti, sebab judul itu sudah lebih populer,’’ kata Ekadi katili dalam pertemuan di Jakarta beberapa waktu lalu.

FOKKA Jakarta Membagi Zakat di Bima Melalui Komunitas BABUJU

Penyerahan Zakat oleh Komunitas BABUJU dari FOKKA di Pemukiam Eks Penderita Kusta desa Panda
BABUJU Report,- Komunitas BABUJU dipercaya oleh FOKKA (Forum Komunikasi Kasabua Ade) untuk membagi sekitar 89 zakat yang terkumpul dari 89 wajib zakat. Wajib zakat tersebut adalah warga Bima yang ada diluar daerah, yang dimayoritasi oleh warga Bima Jabotabek. Pembagian tersebut berlangsung pada hari jumat kemarin (17/8) kepada seluruh warga yang berhak menerima Zakat.

Menyerahkan Zakat di Soncolela Kota Bima
Koordinator Zakat FOKKA, Abdul Gani yang membidangi Kerohanian menjelaskan bahwa Anggota FOKKA tahun 2012 sepakat untuk mengumpulkan Zakat melalui wadah FOKKA untuk diserahkan kepada para warga Bima di Bima yang memang berhak menerima zakat. “Setidaknya kami memulainya dari Anggota dan Pengurus FOKKA terlebih dahulu. Dan Alhamdulillah banyak juga warga Bima yang ada diluar negeri seperti Singapura, Hongkong serta Brunai yang juga menyerahkan Zakatnya melalui FOKKA” ungkapnya melalui seluler beberapa hari yang lalu.

Zakat yang terkumpul kemudian diserahkan kepada warga Bima yang ada di Bima melalui Komunitas BABUJU. “Kami percayakan sepenuhnya kepada Komunitas BABUJU sebagai mitra FOKKA dalam hal mendistribusikan zakat ini. Karena merekalah yang mengetahui siapa saja orang-orang yang berhak menerimanya. Hal ini dilakukan agar Zakat yang terkumpul dari warga Bima – Jakarta, tersampaikan sesuai dengan niat” lanjut Abdul Gani, warga Sape yang tinggal di Jakarta Timur ini.

Menyerahkan zakat di Kodo - Kota Bima
Aan Giant, salah seorang pengurus FOKKA menyatakan bahwa menyerahkan Zakat ke Bima dari Pengurus dan anggota FOKKA ini merupakan kesadaran bersama Pengurus FOKKA bahwa di Bima juga masih banyak keluarga dan kerabat yang berhak menerima zakat ini. “selama ini warga Bima yang ada di Jabodetabek mengumpulkan zakat kepada BAZDA, sekali-sekali seperti ini, tidak salah bila kami mengumpulkan Zakat dan menyerahkan kepada saudara dan kerabat kami di Bima yang juga berhak menerima Zakat” ujar putra Kendo-Penanae Kota Bima ini via seluler.

Ketua Panitia Pendistribusian Zakat Komunitas BABUJU, Santun Aulia yang ditemui terpisah menjelaskan, FOKKA mempercayakan kepada Komunitas BABUJU dalam hal mendistribusikan 89 Zakat kepada warga yang berhak menerima Zakat di daerah Kabupaten dan Kota Bima. “Kami di Percaya oleh FOKKA untuk ini, dan kami sudah menyerahkan amanah ini sepenuhnya dalam bentuk beras 2,5 kg sesuai syarat zakat yang ada kepada warga yang berhak menerimanya” jelasnya.

Menyerahkan Zakat di Desa Samili - Woha Kab Bima
Terkait diwilayah mana saja zakat ini didistribusikan, Santun menjelaskan bahwa khusus di Wilayah Kota Bima, setidaknya ada 51 zakat yang diserahkan, sedangkan di wilayah Kabupaten Bima sebanyak 38 zakat. “Penerima zakat sudah kami bahas dan putuskan sejak 2 hari sebelum pembagian ini kami lakukan. Insyaallah berkah, karena memang mereka adalah warga yang memang sangat membutuhkan. Lebih-lebih kami prioritasknya warga yang lansia.” Pungkasnya di Soncolela disela-sela pembagian zakat.

Dari data yang dihimpun, Komunitas BABUJU mendistribusikan zakat kepada 20 warga eks penderita Kusta desa Panda Kab Bima, 9 zakat di Samili – Woha, 9 zakat di Simpasai Monta, 9 zakat di Madapangga, 4 zakat di Langgudu, 6 zakat di Kodo Kota Bima, 13 zakat di Ranggo Kota Bima, 11 zakat di Lela-Jatibaru, dan 8 zakat di Soncolela. “Zakat yang dibagi semuanya dalam bentuk beras, karena menurut kami, hal tersebut lebih bermakna dan bermanfaat disbanding dalam bentuk uang sebesar Rp 19.500, sesuai dengan takaran zakat yang diwajibkan” tegas Santun.

Disamping itu, diserahkan pula bingkisan sembako kepada warga eks penderita Kusta desa Panda. Sembako ini tidak banyak, namun setidaknya dapat bermanfaat selama lebaran berlangsung. “Ada juga Bingkisan Lebaran dalam bentuk sembako yang kami serahkan kepada 15 KK yang tinggal dipemukiman Kusta desa Panda. Sembako ini dibeli dari dana sedekah yang dikirim oleh FOKKA kepada Komunitas BABUJU” ungkap Santun. 

Penyerahan Zakat di Pemukiman Eks Penderita Kusta Desa Panda Kabupaten Bima, juga dihadiri dan saksikan oleh Ketua KNPI Kota Bima, Syarifudin Laquy, SH, serta Koordinator Komunitas BABUJU, Julhaidin, SE. 

Komunitas BABUJU Selenggarakan Upacara HUT RI Dipemukiman Eks Kusta.

Peserta Upacara HUT Proklamasi RI ke 67 di Pemukiman eks Penderita Kusta Kab Bima Desa Panda

BABUJU Report,- Ada suasana yang berbeda dipemukiman mantan penderita Kusta Desa Panda kecamatan Palibelo Kabupaten Bima, jumat pagi kemarin (17/8). Pada hari yang bertepatan dengan HUT RI  tersebut, Komunitas BABUJU menggelar Upacara penaikan Bendera merah putih dalam rangka memperingati hari Proklamasi Kemerdekaan RI. 

Upacara yang digagas secara sederhana oleh Komunitas BABUJU tersebut diikuti oleh sekitar 53 warga pemukiman eks penderita kusta. Disamping itu, hadir pula Ketua KNPI Kota Bima, Syarifudin Lakuy, SH beserta jajarannya, tak ingin ketinggalan, anggota DPRD Kab Bima, Ilham Yusuf beserta beberapa anggota Badan Amal & Infak PKS juga turut menjadi peserta Upacara.

Berbeda dengan pelaksanaan Upacara yang diadakan oleh Pemerintah Kota Bima dihalaman Pemkot Bima serta Pemerintah Kab Bima di lapangan Maria – Wawo, Upacara di Pemukiman Kusta begitu hikmad. Seluruh pelaksana Upcara berpakaian seadanya selayaknya masyarakat Biasa. Menggunakan sarung dan Nampak unik.

'Punggawa Upacara' atau Pemimpin Upacara
Perhatikan saja Pemimpin Upacara yang digelar sebagai ‘Panggawa Upacara’ sedangkan Pembina Upacara digelari ‘Pemangku adat Upacara’. Tidak ada paduan suara karena seluruh peserta Upacara menyanyikan lagu Indonesia Raya. Pembaca UUD 1945, Pancasila dan Doa dari warga eks penderita kusta sendiri.
“Untuk pertama kalinya dalam hidup saya mengikuti Upacara yang dilakukan oleh kelompok pemerhati sosial. Begitu hikmad dan saya larut didalamnya karena terasa sekali nuansa Nasionalisnya, ini luar biasa, Salut untuk Komunitas BABUJU yang menggagas kegiatan ini untuk saling berbagi rasa” Ungkap Ilham Yusuf, Anggota DPRD Kab Bima.

Koordinator BABUJU yang juga selaku ‘Pemangku Adat Upacara’, Julhaidin, SE atau biasa disapa Rangga Babuju menyatakan bahwa Upacara Peringatan HUT RI dilokasi eks Penderita Kusta tersebut merupakan salah satu cara dalam berbagi rasa dihari kemerdekaan RI. “Mereka ini (warga eks Penderita Kusta) adalah rakyat seperti kita yang terkucilkan dari kehidupan sosial masyarakat karena stigma atas penyakit yang pernah diderita (Kusta) oleh mereka” kisahnya.

Lebih lanjut, Rangga menjelaskan bahwa warga eks Penderita kusta ini telah bermukim disini sejak tahun 1985 (28 tahun). Mereka berasal dari berbagai kecamatan di Bima, ada yang berasal dari cenggu, Ntonggu, Wera, Ambalawi, Monta, Langgudu dan Monggonao. “ini adalah kali pertama mereka merasakan Upacara Proklamasi Kemerdekaan RI selama 28 tahun ini. Dan mereka merasa bangga melaksanakannya” ujar Julhaidin yang didampingi oleh Rifaid, ketua Panitia Penyelenggara Upacara Proklamasi di Pemukiman eks Kusta.

Syarifudin Lakuy, SH, Ketua KNPI Kota Bima yang hadir ditengah upacara sedang berlangsung menyatakan rasa bangganya melihat semangat para warga eks penderita Kusta serta generasi muda yang berkecimpung dalam Komunitas BABUJU dalam menyelenggarakan kegiatan ini. “Tidak mungkin, penyelenggaraan yang begitu hikmad dan rasa haru seperti ini terjadi bila tidak dilakukan secara bersama-sama dan dalam kondisi yang tidak saling membedakan. Ini luar biasa, ini yang saya banggakan” ujarnya.

Pengibaran Bendera Merah Putih di Lokasi Upacara
Upacara HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke 67 yang diselenggarakan di pemukiman eks kusta desa panda turut diliput oleh 4 media televise nasional serta 3 media cetak. Upacara berlangsung selama 35 menit dan diakhiri dengan kegiatan pembagian Zakat serta bingkisan lebaran.

Kesuksesan Pembangunan Kota Bima Versi Gubernur NTB

Ditulis Pada Hari Minggu, 12 Agustus 2012 | Oleh: Babuju.com

Gubernur NTB, Dr. HM Zainul Madji
BABUJU Report,- Apa syaratnya jika pembangunan Kota Bima meraih kemajuan? Gubernur NTB, Dr. HM. Zainul Madji, punya saran pada Wali Kota Bima, HM. Qurais dan masyarakat. "Segala bentuk pembangunan bisa sukses apabila di dalamnya diisi orang-orang kuat dan religius". Hal itu disampaikannya beberapa waktu yang lalu, saat safari Ramadan di masjid At-Taqwa Kelurahan Paruga, Selasa (7/8) malam.

Dijelaskannya, kuat yang dimaksud bukan hanya fisiknya saja, namun juga kuat mental dan pemikirannya, tidak ceroboh. Hal  yang paling utama adalah religius, penggerak pembangunan haruslah orang yang mengedepankan agama dibandingkan dunia. “Sebab apa yang dikerjakannya akan diniatkan untuk ibadah sebagai bekal akhirat,’ katanya.

Disamping itu, Gubernur mengingatkan kepada Pemerintah daerah Kota Bima untuk dapat mensinergikan pembangunan fisik dengan Pembangunan mental aparatur maupun moralitas masyarakat. Sebab, pembangunan infrastruktur yang notabene adalah Fisik, tidaklah berarti apa-apa bila tidak seiring dengan pembangunan mental Birokrasi yang bagus dan moralitas masyarakat yang  baik. "Bangunlah sinergisitas Pembangunan fisik ini dengan ahlak masyarakat yang bagus" ungkapnya.

Tidak hanya itu. Katanya, selalu  bersikap amanah, jujur, dan bertanggungjawab. Apalagi, yang berhubungan langsung dengan anggaran, godaan sedikit selalu dan pasti ada. Bagi mereka yang keimanannya lemah, maka sangat mudah menyelewengkan anggaran rakyat  itu, sehingga pembangunan terutama fisik tidak mendapatkan hasil maksimal.

Diingatkannya, saat menata daerah dan sistem pemerintahan, penempatan sosok religius sangat penting sebagai penggerak pembangunan. Jika menempatkan orang sembarangan, dikuatirkan pembangunan tidak jalan sesuai harapan. “Saya berharap hal tersebut bisa diterapkan oleh masyarakat Kota Bima dalam membangun daerah,” harapnya.

Sumber link: http://www.bimakini.com/index.php/politik/item/1931-syarat-kesuksesan-pembangunan-versi-gubernur-ntb

Formalin Dan Boraks Dalam Makanan Beredar Di Kota Bima

Ditulis Pada Hari Kamis, 09 Agustus 2012 | Oleh: Babuju.com

Pasar Murah Ramadhan Di Lapangan Serasuba
BABUJU Report,- Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan (BPOM) Mataram Selasa (7/8) menggelar operasi dan pemeriksaan pada sejumlah toko dan penjual makanan di pasar raya Bima. Hasilnya, Tim BPOM menemukan penggunaan bahan kimia yang berbahaya, seperti formalin dan boraks pada mi basah dan kerupuk yang dijual di Kota Bima.

Operasi itu didampingi petugas Dinas Kesehatan dan Diskoperindag Kota Bima. Untuk menjangkau sejumlah toko dan penjual makanan di kompleks pasar raya Bima, petugas BPOM dibagi dalam tiga tim. Anggota tim tersebut membeli sejumlah makanan untuk dijadikan contoh penelitian agar diketahui kadar bahan pengawet yang digunakan dalam makanan tersebut.

Beberapa makanan yang dijadikan contoh di antaranya mi basah, mi bakso, tahu, kerupuk, daging ayam, tahu isi dan lainnya. Totalnya sebanyak 14 jenis. “Kita sengaja menggelar razia dan pemeriksaan seperti ini untuk mengetahui apakah bahan makanan yang digunakan warga sehat atau mengandung bahan kimia berbahaya,’’ ujar Kepala Bidang Pemeriksaan dan Penyelidikan BPOM NTB, Dra. Ni Gan Suryaningsih A.Pt, MH.

Apalagi, katanya, saat bulan Ramadan dan sebentar lagi akan Idhul Fitri, konsumsi sejumlah bahan makanan akan meningkat. “Dari 14 contoh bahan makanan yang kita ambil, empat diantaranya menggunakan pewarna kertas, seperti kerupuk merah bundar. Begitu pula untuk mi basah atau mi bakso, menggunakan formalin dan boraks. Satu kerupuk produksi dari Jawa menggunakan boraks,’’ sebutnya di lokasi.

Hasil pemeriksaan itu , lanjutnya, akan ditindaklanjuti dengan mendatangi produsen untuk pembinaan, sehingga ke depan mereka tidak lagi menjual makanan yang mengandung bahan kimia. “Kita juga akan mendatangi produsen makanan dari Jawa, termasuk distributornya. Agar tidak lagi memasok makanan mengandung bahan kimia ke Bima,’’ katanya.

Selain itu, Tim BPOM juga telah mendatangi sembilan toko penjual makanan. Dari sembilan toko itu, ada beberapa di antaranya ditemukan menjual bahan makanan yang telah kedaluwarsa. Bahan makanan itu kemudian dimusnahkan langsung oleh pemilik tokonya.

Kepala Bidang Perdagangan Diskoperindag Kota bima, Ratnaningsih, SE, mengaku kehadiran Tim BPOM NTB itu untuk mengetahui jenis makanan apa saja yang mengandung bahan kima berbahaya. Melalui operasi tersebut akan diketahui produk makanan apa yang aman dan berbahaya dikonsumsi. Mengenai penggunaan bahan kimia seperti formalin dan boraks pada makanan, Diskoperindag akan mendatangi perusahaan pembuat mi basah untuk diberikan pembinaan lebih lanjut. “Agar mereka tidak lagi menggunakan bahan kimia yang membahayakan kesehatan konsumen,” katanya.

Link Sumber: http://www.bimakini.com/index.php/orkes/item/1922-bpom-mataram-temukan-mi-basa-berformalin

Gadis Muda Dirampok Dan Diperkosa di Jalur Ntonggu - Kumbe

Ilustrasi
BABUJU Report,- Nasib naas menimpa seorang gadis, sebut saja, namanya Bunga (19). Bunga adalah Korban perampokan dan pemerkosaan oleh sekelompok pemuda dijalur Kumbe – Ntonggu. Dari laporan yang dibeberkan di Polsek Rasanae Timur, bahwa motornya dibawa lari kemudian dirinya ditarik ke semak-semak dan diperkosa.

Menurut penuturan Bunga yang ditemani oleh beberapa warga yang menemukannya, bahwa pada hari selasa sore (7/8) tersebut, sekitar pukul 17.15 Wita, dirinya hendak menuju Kota Bima dari arah Ntonggu. Mengingat jalur Belo – Kota Bima cukup jauh, ia memilih jalur dekat melalui jalan potong Ntonggu-Kumbe.
Jalur tersebut dianggapnya aman karena bebrapa kali pernah dilalui dan dilewatinya, namun naas bagi dirinya, sekitar Lokasi TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Sampah, muncul empat orang pemuda dari balik semak-semak memberhentikan motor yang dikendarainya. 

Motor berjenis Yamaha Mio ber-plat EA 4843 SE, dirampas oleh dua orang pelaku, sedangkan dua orang lainnya menyergap dirinya yang lemas karena kaget dan panic. “Motor saya langsung dirampas oleh dua orang yang berpakaian ninja, dua orang lainnya menarik-narik turun saya dari motor, saya sudah berusaha teriak namun langsung didekap mulut saya” ceritanya pilu.

Masih menurut penuturan Bunga, setelah motor dirampas, mulutnya diikat dengan menggunakan kain, demikian pula tangannya. Kemudian ditarik kesemak-semak disekitar lokasi, lalu secara bergilir dirinya diperkosa oleh pelaku. “Saya tidak tahu berapa lama saya digituin, saya sudah tidak kuat dan hanya bisa pasrah menangis, pak” ungkapnya.

Menjelang magrib, ada warga yang lewat dan melihat dirinya yang terkapar dalam keadaan kaki, dan tangan terikat serta mulut yang disumbat dengan kain. Lalu menolong dirinya dan langsung diantar ke Polsek Rasanae Timur.

AKP Anton Leo, Kapolsek Rasanae Timur membenarkan kejadian tersebut dan Korban sudah melaporkan peristiwa tersebut. “Laporan telah masuk, kini kami akan segera selidiki kasus ini dan telah ditempatkan beberapa orang anggota untuk memantau lokasi. Kasus ini juga telah diketahui oleh Kaporesta Bima dan segera ditindaklanjuti” ujarnya.

Peristiwa penghadangan, perampokan serta pemerkosaan dijalur Kumbe-Ntonggu baru kali ini terjadi, sebelum ini belum pernah dilaporkan terjadi. Kapolsek Rasanae Timur sekaligus menghimbau warga dalam wilayah pengamanannya untuk mewaspadai titik-titik rawan dan sepi. “Kalau bisa, janganlah berkendaraan sendiri ditempat-tempat sepi, ini untuk mewaspadai aksi kejahatan” pungkasnya.

Isu Polisi Di Keroyok Napi, LP Raba Dikepung Polisi

Ilustrasi di Pengadilan Raba - Bima
BABUJU Report,- Entah isu atau fakta, tersebar berita bahwa seorang anggota Buru Sergap (Buser) Polresta Bima di keroyok oleh para Nara Pidana (Napi) penghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP) Raba – Bima, Rabu pagi (8/8). Anggota Buser tersebut yang diketahui bernama Gafur sedang menjalani masa penahanan untuk kasus indisipliner.

Akibat informasi tersebut, sekitar 30an anggota Polresta Bima mendatangi dan menggedor-gedor pintu LP tadi pagi (8/8) sekitar pukul 09.00 Wita. Puluhan anggota Polresta Bima tersebut mencoba masuk LP untuk memastikan keadaan dan kondisi rekannya yang dikabarkan dikeroyok oleh para Napi yang sempat menjadi incara Gafur pada saat Gafur masih aktif di kesatuan Buser Polresta Bima.

Hingga saat ini, tidak ada seorang Napi pun yang bisa dimintai konfirmasi kronologis kejadiannya. Kepala LP, Gun Gun Gunawan yang ditemui oleh awak media memastikan tidak ada informasi demikian. “Tidak ada kejadian pengeroyokan dalam LP. Memang ada Napi yang berteriak memanasi situasi namun tidak terjadi pengeroyokan seperti yang diisukan” Jelas Gun.

Akibat isu tersebut, pengepungan anggota Polresta Bima sempat membuat LP mencekam, karena Penghuni LP pun Nampak ‘panas’ dan geram karena anggota Polresta Bima yang datang sempat menggedor-gedor Pintu LP dengan keras. Dari sumber petugas LP menyatakan bahwa, para Napi pun ikut terpancing emosi karena aksi tersebut. “Napi juga tersulut emosi, apalagi banyak Napi yang menjalankan Ibadah puasa, namun bisa ditenangkan oleh Petugas LP” Ungkapnya kepada BABUJU Report.

Kapolresta Bima, AKBP Kumbul KS, S.IK yang dihubungi terpisah menyatakan bahwa tidak ada pengeroyokan terhadap anggota Buser Polresta Bima yang saat ini sedang masa penahanan. “Memang ada budaya di LP, kalau ada penghuni baru, biasanya diteriaki, namun tidak sampai terjadi pengeroyokan seperti yang diisukan. Dia kini diamankan disel khusus di LP” Bantahnya.

Bupati Bima; Bawang Merah Bukan Komoditi Unggulan Nasional

Ditulis Pada Hari Minggu, 05 Agustus 2012 | Oleh: Babuju.com

Safari Ramadhan, Bupati Bima di Masjid Nurul Huda Desa Runggu
BABUJU Report,- Safari Ramadhan hari ke-7, Pemerintah Kabupaten Bima dilangsungkan di Kecamatan Belo pada Jum'at (3/8). Safari Ramadhan kecamatan Belo dipusatkan di Masjid Nurul Huda Desa Runggu. Bupati Bima H. Ferry Zulkarnain, ST bersama Wakil Bupati Drs H. Syafrudin H.M.Nur, M.Pd, Sekretaris Daerah Kabupaten Bima Drs. H. Masykur HMS, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD), Ketua TP PKK dan Ketua GOW Kabupaten Bima, turut hadir dalam acara tersebut.

Setelah silahturahim bersama warga Kecamatan Belo di Masjid Nurul Huda, Bupati Bima memaparkan berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah, "secara umum kegiatan pemerintah semua berjalan dengan baik. Akhir Juli lalu, pemerintah daerah bersama legislatif menyusun secara bersama KUA PPAS untuk tahun 2013 dan telah ditanda tangani kedua belah pihak Kamis (2/8) kemarin". Ungkap Bupati. 

Bupati juga mengatakan pada saat ini Pemkab Bima sedang dilakukan pemeriksaan oleh BPK menyangkut pertanggung jawaban administrasi kegiatan pemerintah daerah tahun 2011."Pemeriksaan ini akan berjalan ± 40 hari,semoga semuanya berjalan dengan baik dan segera selesai karena pemerintah Kabupaten Bima memiliki manajamen administrasi yang baik,sehingga tahun lalu Kab Bima mendapatkan predikat WTP atau Keuangan yang wajar". jelasnya.

Memasuki bulan Ramadhan tahun ini, Bupati Bima sudah mengeluarkan surat edaran yang kurang lebih berisi tentang yaitu menjaga kebersamaan, keamanan, toleransi agama, melaksanakan kegiatan Imtaq dan mengajak masyarakat untuk menunaikan zakat Dalam kegiatan pembangunan dibidang keagamaan, program Jum'at khusyuk dan membumikan Al Quran, pemerintah saat ini tidak lagi membantu pembangunan fisik dengan dana cash seperti sebelum-sebelumnya, namun dengan bahan material seperti semen, besi dan material non lokal lainnya.

Terkait dengan pembangunan infrastruktur seperti jembatan yang terkena bencana banjir bandang yang melanda kecamatan Belo dan 4 kecamatan lainnya beberapa bulan lalu, pemerintah akan melaksanakan normalisasi sungai, dimana Kecamatan Belo dan Kecamatan Woha akan di perlebar sungainya karena masih sering adanya bencana banjir. "Jembatan yang menghubungkan Desa Ngali dan Desa Lido, Pemerintah sedang berupaya untuk membicarakan masalah ini dengan Pemprov NTB terkait biayanya". jelasnya.

Menyinggung ganti rugi korban bencana banjir yang melanda 4 kecamatan pada akhir Mei lalu, Bupati menyatakan bahwa khusus untuk tanaman bawang pemerintah tidak mengganti rugi, karena bawang merah bukan komoditas unggulan nasional. Namun tanaman padi dikenakan ganti rugi karena termasuk komoditi unggulan nasional. Ungkap Bupati dihadapan Tokoh masyarakat dan para undangan yang hadir. 

APBD Kab Bima TA 2013 Direncanakan Sebesar Rp 988,35 Miliar

Dihadapan Bupati Bima, Ketua DPRD Kab Bima menandatangani KUA PPAS 2013 (Foto; Bimakini.com)
BABUJU Report,- Rencana Plafon APBD Kabupaten Bima Tahun 2013 Rp 988,35 Milyar. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bima, Kamis (2/8) menggelar rapat Paripurna tentang Laporan Banggar yang membahas KUA PPAS DPRD Tahun 2013. Rapat dipimpin Ketua DPRD Kabupaten Bima Drs. H. Muchdar Arsyad didampingi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bima Drs. H. M. Najib H. M. Ali MM dan digelar bersama Eksekutif.

Pada kesempatan yang sama disepakati penandatangan Nota Kesepakatan antara Pemerintah Kabupaten Bima dengan DPRD Kabupaten Bima tentang kebijakan umum Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2013. Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) ini disusun berdasarkan kebijakan umum APBD (KUA) yang disepakati bersama antara Pemerintah Kabupaten Bima dengan DPRD Kabupaten Bima.

Penyusunan dokumen ini ditujukan untuk mensinkronisasikan antara Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) yang memuat skala prioritas pembangunan daerah dan plafon anggaran sementara untuk masing-masing program/kegiatan.

Dokumen yang dibacakan Sumardin, SH tersebut memaparkan, "Rencana Anggaran berdasarkan Urusan Pemerintahan Tahun Anggaran 2013 yang telah disepakati dalam Nota Kesepakatan dibagi menjadi 18 urusan wajib sebesar Rp. 928, 77 Milyar dan 6 urusan pilihan senilai Rp. 59,58 Milyar. Dengan demikian, rincian proyeksi belanja Daerah Kabupaten Bima tahun 2013 diproyeksikan sebesar Rp 988,35 milyar atau meningkat sebesar Rp. 118,24 milyar atau 13,59 % dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 870,10 milyar". Ungkapnya.

Mengakhiri laporannya, Sumardin yang mewakili Tim Banggar menyampaikan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian jajaran Eksekutif. Antara lain, peningkatan alokasi anggaran pada pos belanja modal yang telah disepakati dalam pembahasan diharapkan dapat dioptimalkan alokasinya untuk mengakomodasi hasil reses DPRD dan berbagai saluran aspirasi rakyat lainnya, terutama untuk peningkatan infrastruktur jalan dan jembatan, embun dan saluran irigasi, serta berbagai kebutuhan pembangunan masyarakat lainnya.

Selanjutnya Dewan berharap Eksekutif agar penyusunan anggaran tidak melebihi pagu pada PPAS yang sudah disepakati atau yang memiliki kekuatan hukum. DPRD juga merekomendasikan agar eksekutif agar sebelum rancangan KUA dan PPAS diajukan, terlebih dahulu dilakukan pemuktahiran data, agar tidak terjadi kesalahan data pada saat pembahasan.

Eksekutif juga direkomendasikan agar memprogramkan lebih banyak kegiatan yang menyentuh langsung kebutuhan peningkatan pendapatan masyarakat. Disamping itu, diharapkan agar dalam kesempatan pertama Bupati Bima segera mengeluarkan surat edaran kepada SKPD untuk menyusun RKA yang akan disampaikan dan dibahas pada komisi-komisi terkait.

Lagi-Lagi, Mahasiswi PTS Bima Diketahui Aborsi.

Ditulis Pada Hari Kamis, 02 Agustus 2012 | Oleh: Babuju.com

Ilustrasi
BABUJU Report,- Aborsi di Bima kini mengemuka kembali, menjadi pembicaraan hangat warga, menjadi pelengkap saat berbuka puasa dan diwaktu sepulang Taraweh. Hal ini terjadi semenjak penemuan janin bayi yang terbngkus plastic dalam keadaan yang sudah tak bernyawa di belakang rumah salah seorang Warga Desa Tumpu kecamatan Bolo kabupaten Bima, Senin tengah malam kemarin (31/1). 

Diduga, janin yang sudah berusia delapan bulan dalam kandungan tersebut adalah hasil hubungan gelap dua oknum remaja. Aborsi menjadi jalan terakhir pasca berbagai cara tidak dapat mereka lalui. Kedua pelaku aborsi diketahui pasti mahasiswa dan mahasiswi yang masih aktif di salah satu PTS di Kabupaten Bima. Diketahui pula bahwa perempuan yang diduga sebagai pelaku berinisial Nh, asal Dusun Sanggari  Desa Mbawa Kecamatan Donggo serta pelaku laki-laki berinisial Rd, asal Flores NTT. 

Hal ini dipastikan setelah Polsek Bolo melakukan pemeriksaan awal beberapa saksi, salah satunya adalah rekan pelaku. Menurut penjelasan Kapolsek Bolo, AKP Burhanudin yang dikonfirmasi oleh wartawan diruang kerjanya menjelaskan bahwa Nh dan Rd mampir kerumah salah seorang temannya, yang kini menjadi saksi, di Tumpu untuk buang air kecil dibelakang rumah, pelaku juga kepada pemilik rumah meminta tembilang dan sekop, namun tidak ada dan tidak mungkin dipinjam karena sudah larut malam. 

Dari sinilah pemilik rumah yang juga adalah rekan pelaku menaruh curiga. Tidak lama berselang, Nh dan Rd, kembali kedepan rumah. Pemilik rumah mencoba mengorek terkait apa yang tengah terjadi, Nh pun menceritakan Ikhwal yang terjadi. “Mereka membuang janin aborsi tersebut dibelakang rumah saksi. Janin hasil hubungan gelap tersebut dikubur seadanya dan saksi tidak ingin ikut terlibat dalam urusan aib seperti itu sehingga langsung melaporkan hal tersebut kepada warga sekitar. Sedangkan Nh dan Rd keburu kabur” Jelas Kapolsek. 

Kini, Kedua pelaku yang sudah diketahui jelas identitasnya, dalam pengejaran pihak kepolisian, janin yang dibuang terlebih dahulu di bawa ke PKM Bolo pada malam itu juga untuk di otopsi lalu dipindahkan ke RSUD Bima untuk penyelidikan lebih lanjut. Karena bisa jadi masih ada orang lain yang membantu serta terlibat dalam kasus ini disamping kedua pelaku.

Bersama Komunitas BABUJU, Yuank Café Serahkan ‘Bingkai Ramadhan’ Kepada Warga Kusta Di Panda.

Anang, Manager Yuank Cafe Didampingi Koordinator Komunitas BABUJU Menyerahkan bantuan kepada Warga Kusta Desa Panda - Kab Bima di Pemukiman warga Kusta Panda (1/8)
BABUJU Report,- Sebagai amanah Musik Amal yang dilangsungkan pada sabtu malam lalu (28/7), Yuank Café menyerahkan ‘Bingkai Ramdhan’ hasil dari Musik Amal Peduli Bima kepada Warga Kusta di Panda, Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima, Rabu sore (1/8), di damping oleh Civitas BABUJU.

Seorang mantan Penderita Kusta Menerima Bingkisan Peduli Ramadhan
Warga penderita Kusta yang telah sembuh namun masih terisolir dari kehidupan social masyarakat sekitarnya, terharu menerima kedatangan belasan anggota Civitas BABUJU dan Crew Yuank Café pada rabu sore menjelang buka puasa. Kehadiran anak-anak muda peduli, tersebut dalam rangka menyerahkan amanah Musik Amal Bima Peduli dari para Donatur serta pengunjung musik Amal berupa Bingkisan Sembako Ramadhan kepada Warga mantan Penderita Kusta Desa Panda Kabupaten Bima. 

Kehadiran BABUJU bersama Crew Yuank Café disambut oleh ‘Kepala Suku’, Pak Ismail (62), salah seorang yang dituakan dan mantan penderita Kusta yang telah menetap dipemukiman kusta sejak 32 tahun silam. Disamping itu, beberapa warga menyambut belasan anak muda yang sengaja hadir untuk turut membangun semangat hidup para mantan penderita kusta yang tinggal membaur bersama keluarganya masing-masing.

“Jumlah kami disini tidak kurang dari 46 jiwa, atau 18 KK. Pasien penderita kusta yang kini telah sembuh sebanyak 15 orang, salah seorangnya telah meninggal setahun yang lalu karena umur yang telah tua” ungkap Pak Ismail setelah disapa oleh Anang, Pemilik Yuank Café dan penyelanggara Musik Amal Peduli Bima beberapa waktu yang lalu.

Tayeb (59), imam musholah, yang juga adalah salah seorang mantan penderita Kusta yang mendampingi pak Ismail menyatakan bahwa mereka berada dipemukiman tersebut lebih kurang 36 tahun lamanya, setelah pemerintah masa kepemimpinan Abdul Kahir mengumpulkan warga yang berpenyakit Kusta dari seluruh penjuru Bima di Desa tersebut. “Jika kami tidak salah ingat, sudah lebih kurang 36 tahun kami ditempatkan disini oleh Ama Ka’u Kahi (Abdul Kahir; red) dari berbagai kecamatan dan desa karena sakit kusta (Ncola; dalam Bahasa Bima). Karena penyakit kami menular” Kisahnya.

Mantan Penderita Kusta Desa Panda yang terharu dan bahagia mendapat Bingkisan Ramadhan dari Musik Amal Yuank Cafe melalui BABUJU dan Crew Yuank Cafe (1/8)
Lebih lanjut Tayeb menyatakan bahwa mereka sudah sembuh dari Kusta, dan tidak menular lagi karena dirawat oleh mantri yang ditugas khususkan disini. Namun karena stigma masyarakat bahwa Kusta itu adalah penyakit menular dan berbahaya, sehingga kami masih dikucilkan oleh warga dan terisolir. “Masyarakat belum menerima kami seutuhnya, sehingga kami masih terisolir seperti ini” ucapnya.

Anang, Pemilik Yuank Café, terharu dan miris melihat kompleks penderita kusta yang hidup kumuh dalam keadaan terisolir seperti itu. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain saling menghidupi satu sama lain. “Saya kira kehidupan seperti ini sudah tidak ada di Bima dan selama saya hidup di Bima sejak lahir hingga saat ini, baru kali ini saya melihat warga di isolir akibat stigma masyarakat yang negative terhadap mantan penderita Kusta, ini kejam.” Imbuhnya.

Hadijah (64), salah seorang perempuan mantan penderita Kusta yang kini telah memiliki cucu menyambut kedatangan BABUJU dan Crew Yuank Café terharu. Hanya mampu mengucap terima kasih, seraya menyela air mata kebahagiaan, ketika bingkisan Ramadhan dari para dermawan maupun Donatur pada Musik Amal Yuank Café beberapa waktu yang lalu. “Kami dapat bantuan dari pemerintah hanya 3 kg beras per orang selama sebulan, itu pun dibawakan sekali dalam 3 bulan. Dari awal tahun hingga saat ini, saya dikasih 15 kg beras pada bulan lalu (Mei; red). Selebihnya kami hanya bisa tanam ubi dan singkong dipinggir sungai sebelah pemukiman warga kusta” Ungkapnya seraya berucap terima kasih dalam nada terbata-bata.

Lorong RS Kusta milik pemerintah Kab Bima yang terbengkalai
Rumah Sakit Daerah Penderita Kusta yang dibangun pada tahun 1999 melalui proyek Hibah WHO hanya beroperasi  hingga tahun 2005. Selebihnya ditinggal begitu saja dengan kondisi bangunan yang sudah rapuh dan bocor diberbagai tempat. Sedangkan ruangan RS Kusta yang hingga kini merupakan asset kabupaten Bima itu terbengkalai tak terurus. Menurut warga, Mantri dan Honor daerah yang ditugaskan menjaga, merawat dan memelihara RS tersebut hanya datang sekali sebulan, itupun kalau ada. “Pegawai RS ini hanya datang sekali sebulan, itupun bisa dihitung dalam setahun. Kami sudah tidak pernah disuntik seperti biasa sejak tahun 2007. Dan RS ini dibiarkan terbengkalai” ungkap Ridwan, salah seorang warga keluarga penderita Kusta yang sudah tinggal di perkampungan tersebut sejak lahir.

Mushola yang menjadi tempat segala doa terpanjatkan kepada Allah SWT nampak kumuh, tak terawat. Atapnya bocor diberbagai titik, hanya berdinding bedek tanpa jendela. Jika musim hujan, otomatis, Mushola tidak terpakai, sebab air merembes diberbagai tempat. Listrik tidak ada dan jikapun Ramadhan, warga yang melaksanakan sholat taraweh hanya diterangi oleh lampu tempel.

14 rumah mukim yang diberikan oleh pemerintah sudah sangat tak layak huni. Perbaikan terakhir kali dilakukan pada tahun 2003. Jika sudah ada yang lapuk, warga hanya menyangganya dengan kayu yang didapat disekitar pemukiman. Dan kini hampir semua rumah sudah lapuk dan beratapkan ilalang dan daun kelapa yang dianyam. Tiap musim hujan, banjir kiriman wajib menyapa warga ini. Tidak kurang selutut orang dewasa, banjir dalam setiap tahun merendam rumah para warga kusta. Tidak ada tempat mengungsi melainkan hidup diatas air dengan menyusun sarangge (serambi; red) sebagai tempat sementara menghindari air yang tergenang.

Setiap orang yang melihat kehidupan mereka akan terenyuh hatinya. Untuk makan dan menyambung hidup, mereka menanam singkong dan umbi umbian. Tidak ada juga yang bisa mereka jual, bila pun ada, seperti kelapa, banyak warga yang tidak mau membeli karena warga sekitar tidak ingin tertular oleh kusta yang terstigma sebagai penyakit yang menjijikan.

Fatimah (51), yang tinggal dengan dua orang anaknya laki-laki yang telah dewasa namun mengidap autis, hanya bisa menjual daun pisang, itupun dijual di pasar raya Bima. Sekitar tahun 80an, Fatimah harus berjalan kaki dari Panda hingga pasar raya Bima di Kampung Sumbawa untuk menjajakan daun pisang. Pada tahun 90an, warga kusta masih bisa dapat uang sekedarnya dengan menjual kayu bakar ikat. Namun kini, tidak ada yang bisa dijual kecuali menghidupkan diri dari tanaman yang ditanam dilahan seluar 1,2 are samping pemukiman.

Beginilah Rumah Bantuan Pemerintah untuk para Mantan Penderita Kusta Desa Panda. sudah 28 tahun rumah ini dihuni oleh mereka. setiap tahun menjadi langganan Banjir kiriman Sungai Panda. MEREKA BUTUH ULURAN TANGAN KEPEDULIAN KITA SEMUA..
Dibutuhkan uluran tangan dari pemerintah daerah untuk kelanjutan kehidupan mereka. BABUJU Report, yang pernah melakukan konfirmasi hal tersebut pada akhir Desember 2011 yang lalu di Dinas Kesehatan Kabupaten Bima, malah melempar tanggungjawab dalam hal pengurusan warga Kusta Desa Panda kepada Dinsos Kabupaten Bima. Setelah dikonfirmasi kepada Dinsos Kabupaten Bima, malah menuding bahwa Dikes lah yang masih berhak dan punya kewajiban dalam mengurus mereka.

Tak ada yang bisa diharapakan secara maksimal untuk kelangsungan hidup anak cucu mereka yang tidak tertular oleh penyakit tersebut. Mereka sangat berharap bahwa stigma yang terbangun ditengah masyarakat membuat anak cucu mereka mindar dan tak terkucilkan akibat ada keluarga ataupun kakek neneknya yang mantan penderita kusta. Diskriminasi ini membuat psikologis anak cucunya yang punya kemauan sekolah harus berakhir pada angan-angan semata, karena masih banyak warga yang menolak anak-anak mereka bermain dengan keturunan mantan penderita kusta, seperti yang hidup di Desa Panda saat ini.

Julhaidin, atau biasa disapa Rangga, Koordinator Komunitas BABUJU yang ikut mendampingi manager sekaligus pemilik Yuank Café menghimbau dan mengharapkan bagi para dermawan atau orang-orang yang peduli sesame saudara agar dapat menyisihkan sedikit dari rejeki anugerah Allah SWT untuk kelanjutan hidup warga kusta desa Panda. Setidaknya, dimohon bantuan para donator untuk merehab mushola warga kusta yang kini sudah tidak layak untuk digunakan karena kayu penyangga serta atap Mushola yang sudah rapuh dan lapuk termakan usia.

“Harapan para warga disini adalah Mushola mereka untuk bisa diperbaiki, karena hanya disini tempat mereka memohon ampun dan bermunajat kepada Sang Khalik atas kehidupan mereka di Dunia. Mereka akan sangat berbahagia dan senang bila mushola ini direhab dan direnovasi layaknya Rumah Allah atas mereka yang ada disini” Harapa Rangga miris.

Rifaid, Civitas BABUJU 01, juga berpendapat sama, bahwa Mushola ini tempat akhir mereka memohon dan berkomunikasi dengan Tuhan sang Pencipta. Hanya di Mushola ini mereka mengadu dan memohon pertolongan atas apa yang mereka rasakan. “Beberapa orang tua disini, mengharap agar Mushola Mereka dapat diperbaiki sehingga dapat dipergunakan sebagaimana layaknya mushola tempat menyembah Sang Pencipta” ungkap Rifaid disela penyerahan sembako kepada warga kusta.

Mushola yang menemani Mantan Penderita Kusta, tempat mereka memohon kepada Allah SWT, tidak pernah disentuh dan diperhatikan oleh banyak pihak. Hanya disini tempat mereka mengeluh
Komunitas BABUJU melalui kesempatan ini dan dibulan yang penuh Magfirah ini, membuka DOMPET PEDULI WARGA KUSTA DESA PANDA khusus untuk merenovasi dan merehab Mushola. Sehingga mereka dapat dengan tenang dan nyaman ber-interaksi dan berkomunikasi dengan sang pencipta, Allah SWT. Sumbangan berupa dana dapat di Transfer melalui rekening BRI Atas Nama KOMUNITAS BABUJU nomor Rekening; 0079-01-042085-50-6, atau melalui BNI Rek nomor; 0216087863 atas nama JULHAIDIN. Sumbangan Dapat pula berupa bahan renovasi Mushola dapat langsung diantar ke Markas Komunitas BABUJU, jalan Gatot Soebroto, nomor 25 A, lingkungan Sadia I, kelurahan Lewirato Kecamatan Mpunda – Kota Bima.

Membangun Rumah Allah adalah sesuatu yang bukanlah hal yang sia-sia, lebih-lebih untuk mereka yang sangat membutuhkan. Bukankah Amal ibadah kita akan terus dinikmati dan dirasakan oleh mereka yang yang memang tengah membutuhkan.

Komunitas BABUJU

Komunitas BABUJU

Pesan Layanan Komunitas BABUJU
 
Copyright © 2011. Portal Berita Komunitas Babuju . All Rights Reserved.
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Design by Creating Website.